Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Planning and Evaluation’ Category

The World Health Organization says it has reached a limit in its fight against diseases and disasters.VOA News

Pernyataan ini datang dari pimpinan organisasi kesehatan dunia (World Health Organiation – WHO), menyatakan bahwa WHO telah memasuki “babak terakhir”. Apa yang terjadi dengan organisasi ini? Bagaimana kelansungnya?


Dibalik kesuksesan Margareth Chan, ternyata organsasi yang dipimpinnya menghadapi masalah pelik yaitu “serious funding shortfalls“.

“The vaccine was developed, from start to finish, in less than a decade, in record time, and at about one-tenth of the cost usually needed to bring a product through development to the market.  African countries frequently have to wait for years, if not decades, for new medical products to trickle into their health systems. Not this time.” Margareth Chan

Kenapa bisa terjadi?
Tidak adanya perusahaan obat yang mau bekerjasama dengan WHO untuk pembuatan vaksin non-profit. Wah, ternyata perusahaan farmasi berusaha menutup kerja sama terhadap isu sosial yang tidak memberi untung besar bagi industrinya.

Bill and Melinda
Bill Gates dan istrinya Melinda ternyata cukup tanggap dengan isu ini. Melalui the Bill and Melinda Gates Foundation produksi vaksin akan terus dilanjutkan. Baguslah!

Semoga makin banyak orang kaya yang mau peduli akan kesehatan masyrakat global. Amiiin

Salam sehat…

Read Full Post »

Tahun 2010 selangkah lagi meninggalkan kita. Tahun 2010 merupakan bagian dari alur untuk menuju masa lebih baik, salah satunya adalah sektor kesehatan. Menuju tahun 2011, permasalahan dan tantangan kesehatan masih terus hadir. Diperlukan kerja keras dan kerja cerdas untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan tujuan Negara. Tulisan kali ini akan mencoba mereview tantangan pada tahun 2010 yang akan terus menjadi PR pada tahun 2011.

Pertama, kesenjangan status merupakan tantangan utama yang dihadapi pemerintah. Adanya perbedaan mencolok antar daerah kaya dan daerah miskin (provinsi atau kabupaten/kota). Selain itu perbedaan status kesehatan antara si kaya dan si miskin merupakan kesenjangan antar tingkatan sosial-ekonomi. Adanya dikotonomi Indonesia Barat dan Indonesia Timur merupakan kesenjangan antar kawasan. Serta disparitas antara perkotaan dan pedesaan masih tinggi adalah tantangan yang menunujukan bahwa isi kesenjangan kesehatan belum teratasi.

Kedua, masih rendahnya status kesehatan penduduk miskin. Label “miskin” adalah bagian masyarakat yang paling rentan terhadap ancaman kesehatan. Persediaan air bersih dan makan bergizi, pendidikan yang rendah, lingkungan yang jorok merupakan contoh diantara sekian banyak masalah yang dihadapi penduduk miskin. Walaupun pemerintah telah bereksperimen melalui program jamkesmas namun belum sepenuhnya berhasil jika tidak difondasi pengetahuan dan kesadaran pola hidup sehat.

Ketiga, adanya beban ganda penyakit. Double burden melanda hampir seluruh negara berkembang. Kita dihadapkan dengan dua jenis tren-penyakit. Di salah satu sisi kita masih berjibaku dengan penyakit “usang” seperti tetanus, rabies, polio, malaria. Dilain sisi kita berhadapan dengan tren penyakit “dunia modern” yaitu penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, diabetes dan osteoporosis. Namun, jangan lupa bahwa kita menuju kearah triple burden dimana kita sedang bertarung berbagai jenis penyakit baru seperti SARS, H5N1 dan sebagainya. Ancaman pandemi dengan varian virus yang barus terus membayangi umat manusia.

Keempat, tidak meratanya kualitas, kuantitas dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. Tidak meratanya ketiga hal ini merupakan realita lapangan yang tidak bisa disembunyikan. Ketidak-merataan tiga hal ini menyebabkan timbulnya masalah yang diungkapkan pada poin pertama, yaitu kesenjangan status kesehatan.

Kelima, perilaku masyarakat yang belum mendukung. Kebiasaan merokok adalah permasalah yang sangat menonjol di bangsa pengagum tembakau ini. Satu dari empat orang penduduk Indonesia adalah perokok. Makanya merupakan kebanggaan bahwa bangsa ini menduduki posisi 3 sebagai negera penelan asap. Perilaku lain seperti membuang sampah sembarangan juga merupakan kebiasaan penduduk bangsa ini. Dan masih banyak lagi kebiasaan buruk yang tidak menunjang kenaikan status kesehatan. Semua ini diperlukan promosi dan pendidikan kesehatan secara berkelanjutan.

Keenam, pembiayaan kesehatan yang belum memadai. Anggaran kesehatan yang masih berada di posisi 2,3 dari total APBN merupakan salah satu faktor lemahnya sektor kesehatan negeri ini. Saran WHO untuk meningkatan angka penggaran kesehatan hingga posisi 5% dari APBN selalu dianggap angin lalu.

Ketujuh, kuantitas, kualitas, distribusi serta pendayagunaan SDM Kesehatan. Buruknya sistem dan regulasi ketenaga kerjaan khususnya di sektor kesehatan merupakan bagian yang menyumbang lemah status kesehatan negeri ini. Fokus pemerintah yang selama ini untuk tenaga medis, tidak dibarengi dengan menguatnya tenaga penyuluh dan promosi kesehatan. Padahal tenaga kesehatan preventif adalah ujung tombak menuju Indonesia sehat.

Tujuh problem ini akan terus menjadi PR di tahun 2011. Eits… Apakah Anda percaya bahwa program pemerintah Indonesia Sehat 2010 telah tercapai dengan sukses? Terserah Anda menilainya, dengan tolak ukur apa, dan dengan kaca-mata apa Anda melihatnya. Saatnya kita bersiap-siap menghadapi tantangan untuk masa 2010.

Salam sehat..
by Chevi Chenko

Read Full Post »

Perencanaan merupakan bagian inti kegiatan manajemen, karena semua kegiatan manajemen diatur dan diarahkan oleh perencanaan tersebut. Dengan perencanaan itu memungkinkan para penambil keputusan atau manajer untuk menggunakan sumber daya mereka secara berhasil guna dan berdaya guna. Banyak batasan perencanaan yang telah dibuat oleh para ahli.

Dari batasan yang ada dapat ditarik kesimpulan bahwa: Perencanaan adalah suatu kegiatan atau proses penganalisasian dan pemahaman sistem, penyusunan konsep dan kegiatan yang akan diusahakan untuk mencapai tujuan-tujuan demi masa depan yang baik. Dari batasan ini dapat ditarik kesimpulan antaralain:

  • Perencanaan harus didasarkan kepada analisa dan pemahaman sistem yang baik.
  • Perencanaan pada hakikatnya menyusun konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan misi organisasi.
  • Perencanaan secara implisit mengemban misi organisasi untuk mencapai hari depan yang lebih baik.

Secara sederhana dapat diakatakan bahwa perencanaan adalah suatu proses yang menghasilkan suatu uraian yang terinci dan lengkap tentang suatu program atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Oleh sebab itu, hasil proses perencanaan adalah ‘Rencana’ (plan). Perencaanaan atau rencana itu sendiri banyak macamnya, antara lain:

a. Dilihat dari jangka waktu berlakunya rencana

  • Rencana jangka pendek (Short range planning), yang berlaku hanya untuk 1 tahun
  • Rencana jangka menengah (Medium range planning), yang berlaku antara 5 – 7 tahun
  • Rencana jangka panjang (Long term plannin), yang berlaku antara 10 – 25 tahun

b. Dilihat dari tingkatannya

  • Rencana induk (masterplan), lebih menitikberatkan uraian kebijakan organisasi. Rencana ini mempunyai tujuan jangka panjang dan mempunyai ruang lingkup yang luas.
  • Rencana operasional (operational planning), lebih menitikberatkan pada pedoman atau petunujuk dalam melaksanakan suatu program.
  • Rencana harian (day to day planning) ialah rencana harian yang bersifat rutin.

c. Dilihat dari ruang lingkupnya

  • Rencana strategis (strategic planning), berisikan uraian tentang kebijakan tujuan jangka panjang dan waktu pelaksanaan yang lama. Model rencana ini sulit untuk diubah.
  • Rencana taktis (tatical planning), berisikan uraian yang bersifat jangka pendek, mudah menyesuaikan kegiatan-kegiatannya, asalkan tujuan tidak berubah.
  • Rencana menyeluruh (comprehensive planning), ialah rencana yang mengandung uraian secara lengkap dan menyeluruh.
  • Rencana terintegrasi (integrated planning), ialah rencana yang mengandung uraian yang menyeluruh bersifat terpadu, misalnya proglam lain di luar kesehatan.

Read Full Post »

Hal yang mendesak dari setiap usaha perencanaan adalah penyediaan sumber daya manusia dalam jumlah yang tepat dan dengan kemampuan yang cukup untuk memberikan dan mendukung pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan. Dalam sektor yang  padat karya 2/3 biayanya biasanya untuk personil. Disini akan dibahas pentingnya perencanaan tenaga kerja dan mendesaknya tenaga kerja dalam jangka waktu yang diperlukan. Rumah sakit dapat diperlukan dalam beberapa bulan, tetapi diperlukan satu dasawarsa untuk mendidik seorang dokter. Oleh karena itu sangat menyedihkan bila di seluruh dunia terlihat sistem pengairan mengalami kerusakan pusat kesehatan tidak memiliki staf, dan rumah sakit kosong yang merupakan monument sebagai petunjuk kurang memadainya perencanaan personil.

Perencanaan berlangsung pada dua tingkat. Pada tingkat mikro perlu direncanakan jumlah pekerja yang memadai untuk memenuhi, tetapi tidak melebihi permintaan efektif di masa mendatang serta yaitu yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang didukung oleh kemauan kemampuan. Pada tingkat mikro fungsi dan penugasan para pekerja harus ditetapkan. Dalam praktek kedua aspek ini harus dicapai secara stimulant, misalnya sulit untuk megatakan dengan tepat berapa perwat yang harus dilatih sebelum peran dan beban kerja mereka dijelaskan dan dihitung.

Karena sifat perencanaan personil kesehatan yang memiliki banyak aspek, satu kerangka kerja untuk analisis penting. Salah satu yang ditunjukkan berikut ini telah terbukti berguna pada uji coba di berbagai negara seperti Taiwan, Turki, Peru, dan Nigeria tempat kerja sama penelitian tenaga kerja dilakukan atas bantuan jurusan kesehatan internasional, Universitas Johns Hopkines.

Kerangka kerja analisa itu memiliki empat bagian :

Analisis dan proyeksi penawaran

Mengukur penawaran semua jenis tenaga kesehatan yang ada secara terinci dan memproyeksikan penawaran-penawaran pada 10 hingga 20 tahun kemudian, dengan penambahan yang sudah diperhitungkan dari lulusan baru pengurangan yang diperkirakan akibat kematian, migrasi, pension, dan perubahan profesi.

Analisis permintaan dan proyeksi permintaan

Mengevaluasi permintaan ekonomi secara efektif terhadap pelayanan kesehatan baik dan maupun sector swasta maupun sector pemerintah dan memproyeksikan permintaan ekonomi yang efektif untuk waktu 10 sampai 20 tahun kemudian.

Analisis dan proyeksi produktifitas

Memperkirakan jumlah rata-rata pelayanan tiap pekerja kesehatan per-unit waktu dan memproyeksikan perubahan-perubahan

Menyesuaikan permintaan dan penawaran dimasa mendatang

Membandingkan proyeksi penawaran dengan proyeksi permintaan merekomendasikan penyesuaian sperlunya sehingga tercapai suatu keseimbangan bila terdapat kendala yang tak terhindarkan.

Penawaran dapat diseimbangkan dengan permintaan melalui : (1) menaikkan penawaran (S’) atau (2) menaikkan produktifitas (lihat Gambar 1). Kenaikan dalam produktifitas dapat dibatasi oleh standart mutu yang dapat diterima. Secara ekonomis pelayanan total dapat ditingkatkan dengan biaya yang sama dengan menaikkan satuan pelayanan tiap tenaga kesehatan atau dengan cara mensubstitusikan tenaga kesehatan yang lebih murah. Ini kedengarannya agak sederhana, dan memang sebagai konsep, mudah. Walau demikian, kerumitan akan muncul dalam praktek.

 

Read Full Post »