Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Health Law’ Category

Jaksa dan Hakim perlu tau…..

Hampir dipastikan bahwa masalah kesehatan, khususnya terkait hukum masih sekitar permasalah aborsi. Sedangkan masalah lain seperti kelalaian tenaga kesehatan masih menjadi istilah asing.

Dua kemungkinan yang menjadi alasannya. Pertama lemahnya hukum positif (tertulis) mengatur masalah ini. Kedua, lemahnya pengetahuan penegak hukum akan permasalahan kesehatan.

Salam…. Anti Kebodohan

Read Full Post »

Belajar dari negara tetangga memang sangat bermafaat. Jika tulisan saya sebelumnya mengajak kita belajar untuk berinovasi agar usia nyamuk diperpendek sehingga penyebaran demam berdarah bisa ditekan “Belajar dari Malaysia“. Ingat bahwa sesungguhnya bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar dari kawan maupun lawan dari segala penjuru mata angin.

Saatnya kita berpaling ke arah selatan, disana ada negeri kanguru, Australia. Dipenghujung tahun 2010 negara ini menetapkan akan segera melarang semua bentuk iklan tembakau via internet.

Kok dilarang?

Adapun tujuan utama dari pelarangan iklan via internet karena bentuk iklan tembakau via internet adalah tekhnik “curang” dalam ber-iklan. Pertama, iklan tembakau bisa salah sasaran karena dalam dunia maya segala usia ada di dalamnya. Entah dia bayi atau tua renta ada kok, hehe. Kedua, iklan tembakau via internet merupakan cara membebaskan diri dari tingginya pajak iklan tembakau.

 

bentuk iklan curang

Kenapa pemerintah Australia begitu tegas terhadap tembakau?

Karena pemerintah Australia sadar akan bahaya yang tembakau itu sendiri. Penggunaan tembakau merupakan penyebab tunggal dan utama kematian prematur dan penyakit di Australia, menewaskan 15.000 orang setiap tahun dan menelan biaya 31,5 miliar dolar Australia (Rp.275 triliun). Usaha negeri kanguru memerangi tembakau tergolong sukses. Larangan iklan tembakau terbukti berhasil menurunkan angka perokok hingga 30% sejak tahun 1970. Hummm, lantas bagaimana yah nasib Indonesia yang terus dibanjiri iklan tembakau hingga detik ini?

Langkah serius pemerintah dalam perang tembakau benar-benar nyata. Kapan yah negeri ini bisa belajar dari Australia?

Salam sehat…

Read Full Post »

Dari 200 negara di seluruh dunia, 1 milyar perokok adalah perempuan.

Dari segi perbandingan, jumlah perokok pria hanya unggul 9% atas perokok perempuan. Berbagai studi menunjukan bahwa kecenderungan peningkatan angka perokok berasal dari perempuan.

 

 

Hampir dalam jumlah yang sama antara perokok remaja putri dan remaja putra

Sebuah survei WHO, jumlah perokok remaja dari 151 negara, menunjukan bahwa jumlah perokok remaja putra dan remaja putri relatif sama banyak.

 

 

Remaja putri dan remaja putra memiliki alasan yang berbeda untuk start merokok

Remaja putri mulai merokok dengan kepercayaan bodoh bahwa merokok dapat menurunkan berat badan. Remaja pria mulai merokok karena tuntutan komunitas tanpa menyadari akan dampak yang ditimbulkan.

 

Setiap tahunnya 1,5 juta perokok wanita meninggal

Dari 5 juta perokok yang meninggal tiap tahunnya, 1,5 juta jiwa adalah wanita dimana 75%nya berasal dari negara miskin/berkembang.

 

 

Sadari bahwa wanita adalah target utama dari industri rokok

Dengan konsep “beauty, prestige and freedom“, perusahaan rokok memburu para remaja putri sebagai target utama.

 

 

 

Kode “light” adalah kesalapahaman kaum hawa

Metode pabrik rokok untuk menarik daya pikat kaum hawa adalah dengan kode “light” atau “low tar” (pria:wanita = 63:46). Kenyataannya penggunaan rokok dengan logo light lebih banyak menghisap nikotin karena merasa nyaman dalam tiap tarikan napasnya.

 

 

Bahaya rokok antara wanita dan pria sesungguhnya beda dimensi

Anugerah terindah dari wanita adalah melahirkan manusia baru. Namun apa yang terjadi jika bayi mulai dibunuh sejak dalam kandungan, kanker rahim, serta  may cause a reduction in breast milk.

 

 

Kejatahan terhadap wanita disebabkan oleh rokok

Korban second-hand smoke (perokok pasif) adalah sebanyak 430.000 tiap tahunnya. 64 persen dari jumlah ini adalah wanita. Lemahnya hukum perlindungan non-perokok adalah penyebab utamanya.

 

 

Mereka harusnya peduli!

MEREKA TIDAK MELINDUNGI ISTRI DAN ANAK-ANAK MEREKA SENDIRI. Bagaimana melindungi orang lain… Dimana moral Anda?

 

 

 

Wanita bisa menjadin garda terdepan

Dengan isu “maternal, child and reproductive health services” wanita bisa menjadi garda terdepan dalam perang melawan industri rokok.

(sumber: WHO)

 

Fakta ini harusnya membuka mata hati kita, gerakan AKU SAYANG DAN PEDULI bisa menjadi langkah bijak. Saran dan kritik dari Anda kami tunggu. Salam sehat…

Read Full Post »

Sejak gencarnya pemberlakuan Undang Undang Lalu Lintas Nomor 22 Tahun 2009, maka semua pada rajin makai helm. Alasannya sederhana takut ditilang (versi penulis). Berdasarkan peraturan tersebut denda yang harus ditanggung oleh pengendara tanpa helm adalah sebesar 250.000,- (wah seharga sebuah helm standar)


Hitung-hitungan angka kematian di jalan raya dikisaran 30 ribuan tiap tahunnya di negeri ini. Banyaknya angka “tutup usia” di jalan raya ternyata mampu menghisap kerugian 1-1,5 persen dari Grros National Product (GNP). Maklumlah, mayoritas korban kecelekaan adalah usia produktif. Angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas masuk dalam daftar big four pembunuh negeri ini ditemani penyakit jantung, stroke,dan TBC.

Bagaimana posisi helm?

  1. 300 anak-anak mati tiap tahun karena trauma sepeda, 90% dari kematian tersebut merupakan akibat tabrakan dengan kendaraan bermotor, 80% kematian itu berhubungan dengan trauma kepala.
  2. Helm sepeda menurunkan risiko trauma kepala sampai 85%.
  3. Penggunaan helm sepeda secara universal akan menyelamatkan satu nyawa anak tiap hari dan mencegah satu trauma kepala setiap 4 menit.
  4. Hukum yang mengharuskan penggunaan helm pada anak menurunkan mortalitas sampai 80% pada area dimana hukum tersebut ditegakkan.
  5. Setiap duit yang digunakan untuk helm akan menghemat $2 (sekitar 18 ribu rupiah) dalam biaya pelayanan kesehatan 2.200 anak-anak yang trauma dalam kecelakaan yang berhubungan dengan sepeda dan mengalami cacat permanen. Helm dapat mencegah 1.300 trauma-trauma di atas. Hal ini setara dengan US $142 juta.
  6. Harga helm adalah lebih dari US $10 (wah, kayaknya ada kok yang berlogo SNI dengan harga yang lebih murah). Sementara estimasi biaya tahunan trauma dan kematian yang berhubungan dengan sepeda adalah US $8 milyar. Jadi jangan pernah sayang untuk beli dan memakai helm terbaik untuk melindungi kepala.

Namun
Adanya golongan anti-helm tetap berargumen bahwa angka kematian lalu lintas tidak bisa dialihkan ke isu “pakai helm atau ngak“. Salah satu alasan mereka tetap berargumen demikian karena munculnya kekhawatiran standarisasi helm merupakan peluang bisnis yang sengaja diciptakan. Selain itu banyaknya fakta di lapangan bahwa mayoritas yang meninggal di jalan raya disebabkan patahnya leher, jadi entah dia menggunakan helm atau tidak itu tidak dapat menjamin keselamatannya.

“Kami belum mengkajidata, tapi dari pengamatan umum terlihat kualitas cedera kepala memang bergeser setelah ada peraturan helm.”Ahli bedah saraf RS Umum Dr. Soetomo, Surabaya, dr. H.M. Saiid Dharmadipura

Jadi walaupun sebagian besar penderita cedera kepala secara fisik bisa sembuh, tapi secara mental rusak karena otak atau susunan saraf di kepalanya cedera. Tuh… masih mau disebut pake helm karena takut polisi. Sadar donk! Ini bukan sekedar nyaman atau tidak berkendara, ini adalah masalah hidup dan mati Bung. (diambil dari berbagai sumber)

Salam selamat

Read Full Post »

If you’re talking about smoking, we always think it just for smoker problem. Every-smoker said that “take a smoke is my right”, but you must to know that smoking is an issue for non-smoker too. Having a smoke-free environment is right for non-smoker. Why? I can give you some reason why this issue can be classified to be right for non-smoker (quoted from WHO).

There are some 4000 known chemicals in tobacco smoke; at least 250 of them are known to be harmful and more than 50 are known to cause cancer in humans. Tobacco smoke in enclosed spaces is breathed in by everyone, exposing smokers and nonsmokers alike to its harmful effect.

Around 700 million children, or almost half of the world’s total, breathe air polluted by tobacco smoke. Over 40% of children have at least one smoking parent. In 2004, children accounted for 28% of the 600 000 premature deaths attributable to second-hand smoke. In adults, second-hand smoke causes serious cardiovascular and respiratory diseases, including coronary heart disease and lung cancer. In infants, it causes sudden death syndrome. In pregnant women, it causes low birth weight.

Neither ventilation nor filtration, even in combination, can reduce tobacco smoke exposure indoors to levels that are considered acceptable. Only 100% smoke-free environments provide effective protection. Contrary to common belief, smoke-free environments are widely supported by both smokers and nonsmokers.

Having a smoke-free environment often saves money for bars and restaurant owners, reducing their risks of fire and consequently their insurance costs. It often results in lower renovation, cleaning and maintenance costs, too.

Claim your right to get public places that are 100% smoke-free.

Let’s say HEALTH IS MY RIGHT … by Chevi Chenko

Read Full Post »

Tahun 2010 selangkah lagi meninggalkan kita. Tahun 2010 merupakan bagian dari alur untuk menuju masa lebih baik, salah satunya adalah sektor kesehatan. Menuju tahun 2011, permasalahan dan tantangan kesehatan masih terus hadir. Diperlukan kerja keras dan kerja cerdas untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan tujuan Negara. Tulisan kali ini akan mencoba mereview tantangan pada tahun 2010 yang akan terus menjadi PR pada tahun 2011.

Pertama, kesenjangan status merupakan tantangan utama yang dihadapi pemerintah. Adanya perbedaan mencolok antar daerah kaya dan daerah miskin (provinsi atau kabupaten/kota). Selain itu perbedaan status kesehatan antara si kaya dan si miskin merupakan kesenjangan antar tingkatan sosial-ekonomi. Adanya dikotonomi Indonesia Barat dan Indonesia Timur merupakan kesenjangan antar kawasan. Serta disparitas antara perkotaan dan pedesaan masih tinggi adalah tantangan yang menunujukan bahwa isi kesenjangan kesehatan belum teratasi.

Kedua, masih rendahnya status kesehatan penduduk miskin. Label “miskin” adalah bagian masyarakat yang paling rentan terhadap ancaman kesehatan. Persediaan air bersih dan makan bergizi, pendidikan yang rendah, lingkungan yang jorok merupakan contoh diantara sekian banyak masalah yang dihadapi penduduk miskin. Walaupun pemerintah telah bereksperimen melalui program jamkesmas namun belum sepenuhnya berhasil jika tidak difondasi pengetahuan dan kesadaran pola hidup sehat.

Ketiga, adanya beban ganda penyakit. Double burden melanda hampir seluruh negara berkembang. Kita dihadapkan dengan dua jenis tren-penyakit. Di salah satu sisi kita masih berjibaku dengan penyakit “usang” seperti tetanus, rabies, polio, malaria. Dilain sisi kita berhadapan dengan tren penyakit “dunia modern” yaitu penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, diabetes dan osteoporosis. Namun, jangan lupa bahwa kita menuju kearah triple burden dimana kita sedang bertarung berbagai jenis penyakit baru seperti SARS, H5N1 dan sebagainya. Ancaman pandemi dengan varian virus yang barus terus membayangi umat manusia.

Keempat, tidak meratanya kualitas, kuantitas dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. Tidak meratanya ketiga hal ini merupakan realita lapangan yang tidak bisa disembunyikan. Ketidak-merataan tiga hal ini menyebabkan timbulnya masalah yang diungkapkan pada poin pertama, yaitu kesenjangan status kesehatan.

Kelima, perilaku masyarakat yang belum mendukung. Kebiasaan merokok adalah permasalah yang sangat menonjol di bangsa pengagum tembakau ini. Satu dari empat orang penduduk Indonesia adalah perokok. Makanya merupakan kebanggaan bahwa bangsa ini menduduki posisi 3 sebagai negera penelan asap. Perilaku lain seperti membuang sampah sembarangan juga merupakan kebiasaan penduduk bangsa ini. Dan masih banyak lagi kebiasaan buruk yang tidak menunjang kenaikan status kesehatan. Semua ini diperlukan promosi dan pendidikan kesehatan secara berkelanjutan.

Keenam, pembiayaan kesehatan yang belum memadai. Anggaran kesehatan yang masih berada di posisi 2,3 dari total APBN merupakan salah satu faktor lemahnya sektor kesehatan negeri ini. Saran WHO untuk meningkatan angka penggaran kesehatan hingga posisi 5% dari APBN selalu dianggap angin lalu.

Ketujuh, kuantitas, kualitas, distribusi serta pendayagunaan SDM Kesehatan. Buruknya sistem dan regulasi ketenaga kerjaan khususnya di sektor kesehatan merupakan bagian yang menyumbang lemah status kesehatan negeri ini. Fokus pemerintah yang selama ini untuk tenaga medis, tidak dibarengi dengan menguatnya tenaga penyuluh dan promosi kesehatan. Padahal tenaga kesehatan preventif adalah ujung tombak menuju Indonesia sehat.

Tujuh problem ini akan terus menjadi PR di tahun 2011. Eits… Apakah Anda percaya bahwa program pemerintah Indonesia Sehat 2010 telah tercapai dengan sukses? Terserah Anda menilainya, dengan tolak ukur apa, dan dengan kaca-mata apa Anda melihatnya. Saatnya kita bersiap-siap menghadapi tantangan untuk masa 2010.

Salam sehat..
by Chevi Chenko

Read Full Post »

Teriakan kegirangan menyambut pesta gol dalam pertandingan semifinal AFF Suzuki Cup 2010 yang mempertemukan Indonesia vs Filipina (Minggu, 19-12-2010). Rekor kemenangan Indonesia atas Filipina masih terus berlanjut. Merupakan sebuah kebanggaan bagi kita warga negara Indonesia. Selama ini khan banyak kita hanya mampu bangga sebagai negara korup, negara tikus, de es te (dst) yang memekakan telinga, hehe.

Setelah pertandingan Filipina dan Indonesia usai, kusempatkan diri untuk membuka laptop untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai Filipina. Kesimpulan dari hasil pencarianku adalah PEMERINTAH INDONESIA MASIH PERLU BELAJAR DARI FILIPINA. Ada 3 alasan kuat mengapa pemerintah perlu belajar dari Filipina, jika dikalkulasikan Filipina pantas menang dengan skor 3 – 0, yuk kita mulai selidiki.

Pertama, sistem asuransi kesehatan Filipina jauh lebih elegan dari pada sistem asuransi kesehatan di Indonesia. Tradisi kuno, asuransi kesehatan nasional hanya diberikan kepada segelintir yang berpangkat PNS (melalui askes), miskin (melalui jamkesmas — inipun masih sangat lemah), dan pekerja/buruh (melalui jamsostek — tidak semua perusahaan mau ikut terlibat). Jika kita melihat sistem asuransi kesehatan Filipina, seluruh warga negara Filipina mendapat jaminan kesehatan melalui asuransi kesehatan nasional. So, 1 – 0 untuk keunggulan Filipina

Kedua, besarnya anggaran kesehatan nasional Indonesia masih kalah telak dengan Filipina. Jika negara Garuda memasang target 2,2 dari total PDB (Pendapatan Nasional Bruto) maka negara Filipina memasang target 3,3 dari total PDB. Memang kedua negara masih tergolong kikir dalam mengeluarkan duit buat kesehatan masyarakatnya sebab WHO (World Health Organization) menyarankan agar angka anggaran kesehatan nasional menyentuh angka lima digit. Tapi disini kita bisa melihat kepedulian pemerintah Filipina lebih unggul daripada pemerintah Indonesia. Indonesia malahan sangat susah untuk menyentuh angka tiga. Okelah, akui aja deh 2 – 0 buat Filipina.

Salah satu hal yang mungkin negara kita akan terus kalah dari negara-negara tetangga adalah kepedulian pemerintah akan “tabbaco abuse“. Indonesia adalah satu-satunya negara ASEAN yang belum menanda-tangani kesepakatan Framework Convention on Tobacco Control. Indonesia masih memberi peluang besar bagi warganya untuk berenang dalam kabut asap rokok. Pressing dari perusahaan rokok dunia terlalu kuat untuk menekan pemerintah Indonesia yang loyo, apalagi nilai pajak dari perusahaan rokok cukup menggiurkan. Sebaliknya pemerintah Filipina, adalah negara terdepan yang mampu menjaga warganya dari kecanduan asap. Penulis yakin ini adalah gol kekalahan telak bagi Indonesia. Skor 3 – 0 untuk kemenangan Filipina.

Semoga, kemengan Indonesia atas Filipina dengan agregat 2 – 0 dalam semifinal AFF 2010, tidaklah tercoret dengan kekalahan 3 – 0 dari pandangan penulis. Wahai pemerintahku, janganlah engkau hanya bisa teriak kegirangan ketika timnas sepakbola mampu mencetak gol. Tunjukkan pula mana gol indah darimu. Arena pertandingan mungkin beda, Firman Utina dkk bermain riang di rumput hijau,  sedang engkau wahai pemerintah harus mampu memberi gol indah di lapangan real melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, hukum, dll adalah arena bertandingmu.

Salam GARUDA…

Read Full Post »

Older Posts »