Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Health Strategy’ Category

Indonesia kaya akan bahan baku herbal

Negeri ini sungguh kaya, sangat kaya. Bukan hanya budaya, tetapi dari segi kesehatan juga sangat kaya akan berbagai jenis pengobatan tradisional. tidak ada yang jelas, seberapa banyak jenis pengobatan alternatif dan berapa banyak pelaku, serta berapa banyak konsumennya. Tidak ada, benar-benar tidak ada. Bisa saja ini merupakan pembiaran negara, cuek akan kondisi realita di masyarakat. Tapi bisa saja ini merupakan kesengajaan dengan tujuan politis dan ekonomi.

Yah, bisa saja monopoli tindakan pengobatan oleh dunia medis “modern”. Padahal tak jarang masyarakat mengakui bahwasanya pengobatan tradisional jauh lebih efektif, murah, tidak menimbulkan efek samping, dan lebih hebat, penyakit-penyakit yang divonis susah disembuhkan secara medis “modern”, nyatanya masih bisa diterapi. Alhmadullillah, banyak yang sembuh.

Selaku praktisi kesehatan, hal ini terus menjadi tanda tanya dan tantangan. Perlu kajian lebih mendalam akan hal ini. Kekhawatiran saya, hingga saat ini para lulusan kedokteran, selalu merasa mereka adalah ahlinya dalam kesehatan medis, padahal di masyarakat kita sendiri banyak praktisi kesehatan tradisional yang jauh lebih mujarab dalam mengobati.

MONOPOLI. Yah, saya cenderung melihatnya seperti itu. Pendidikan kesehatan yang mahal, bisa menjadi landasan untuk monopoli dunia medis. Hingga saat ini, pemerintah kita, yah, Indonesia dong, entahlah, apakah sudah memiliki pemikiran bagaimana mendidik dan mensertivikasi para pelaku kesehatan tradisional.

Ada hitam, ada putih. Apakah para praktisi kesehatan yang secara aktual menerapkan local wishdom ini DIBINA ATAU DIBINASAKAN.

Semoga kesehatan menjadi barang yang murah bagi siapa saja, dan berhak dikelola oleh siapa saja. Amin.

Read Full Post »

Paradigm, how you are looking for.

Paradigm is aims to provide a platform for our ideas, vision, and action. In the medical world, there are two kinds of paradigms, namely health paradigm and ill paradigm. In its development paradigm is becoming obsolete and ill switch to healthier paradigm. But in some countries, the paradigm of illness is still maintained, for example Indonesia. Why does this happen?

In this section, writer give two reasons why it’s happen. Before we go further, I give about the differences in this paradigm. Paradigm of illness is looking health as a necessity consumptive, wasteful, and consider health is an attempt to heal the sick. While the health paradigm, realizing the importance of health as an investment, so that health needs to be maintained.

Paradigm adopted by a country can be seen from each of the resulting policy. Indonesia Indonesia certainly still using paradigm of illness, because health in Indonesia has not been ogled as an investment. Just look at the budget for health, curative is more dominant than promotive.

Two things that might be the reason why Indonesia prefers paradigm of illness. First, policy makers do not understand that the health paradigm is the best solution for building a healthy society. Second, due to the factors of deliberate attempts to corruption and collusion. More precisely the efforts of policy makers to seek personal gain than the prosperity of the people.

Read Full Post »

cepat menuju sasaran

Ilmu manajemen akan terus berkembang mencari formulasi terbaik guna mencapai kesempurnaannya. Pencapaian kesempurnaan memang susah, bahkan mustahil, namun usaha manusia ke arah itu takkan pernah selesai. Seperti itulah manusia, dimana tercipta sebagai khalifah di atas muka bumi. Layak mendapat gelar khalifah karena rasa ingin tahu melalui akan pikiran dan dibarengi dengan tindakan uji coba.

Manajemen ala ambulance sebagaimana judul di atas, mungkin tak pernah ada buku-buku atau bahan kuliah dimanapun. Istilah ini hanyalah ide dari penulis sendiri. Berangkat dari realita lapangan bahwasanya segala sesuatu yang berkaitan dengan manajemen dan administrasi selalu terkesan lamban, dan loyo. Maka penulis menghadirkan “manajemen ala ambulance“.

“An ambulance is a vehicle for transportation of sick or injured people to, from or between places of treatment for an illness or injury” Henry Alan Skinner dalam bukunya “The Origin of Medical Terms”.

Manajemen ala ambulance, bukan tema sakitnya sebenarnya yang hendak ditekankan, melainkan begitu efektif dan cepatnya transportasi ini menuju tujuan atau sasaran. Manajemen ala ambulance sangat cocok untuk kondisi yang bersifat urgent. Kondisi dimana, jika terjadi keterlambatan akan berakibat fatal dan bahkan mematikan sebuah proses organisasi, akan sangat membutuhkan manajemen ala ambulance.

bisa melewati semua jalur
bebas hambatan

Manajemen ala ambulance, memungkinkan jenjang organisasi paling bawah bisa berkonsultasi dengan top manajerial sekalipun. Metode ini hampir mirip dengan tindakan inspeksi. Namun perbedaannya, sebuah inspeksi bersifat privat, mendadak dan tanpa ada pemberitahuan ke bagian atau orang yang hendak diinvestigasi. Sedangkan manajemen ala ambulance, terbuka untuk umum dan terdapat jalur yang  jelas sebagai bahan petunjuk bahwasanya manajemen ala ambulance bisa digunakan.

Memang alangkah indahnya, andaikata semua proses manajemen berjalan dengan manajemen seperti ini. Namun, seperti halnya kondisi jalanan, ada yang sempit, berluabang, banyaknya kendaraan, jangkauan, dan lain sebagai yang tidak memungkin hal ini terjadi. Oleh sebab itu, manajemen ala ambulance adalah jawaban untuk proses manajemen saat ini, untuk kondisi tertentu saja.

Read Full Post »

Nyalakan lampu kendaraan anda

Kebijakan pemerintah untuk menyalakan lampu bagi kendaraan beroda dua pada siang hari menimbulkan pro dan kontra. Masyarakat menjadi heran, apakah maksud dari kebijakan ini. Begitulah. Ketika sebuah kebijakan tidak dibarengi dengan sosialisasi yang benar dan tepat.

Sebenarnya kebijakan menyalakan lampu pada siang hari bukanllah bermaksud untuk “boros”. Melainkan untuk penghematan, termasuk menghemat angka kecelakaan di jalan raya. Menyalakan lampu sebenarnya dapat menjadi tanda / signal yang tepat bahwa ada kendaraan lain yang hendak lewat.

Sosialisasinya akan manfaatnya bang?

Penggunaan klakson, memang selama ini terlihat efektif. Namun kenyataannya sangat fatal terutama bagi mereka yang selalu menggunakan head-set di jalan raya, menggunakan helm kedap suara, mobil yang tertutup rapat. Penggunaan klakson juga hanya menjadi sia-sia bagi pengendara yang tuli atau mengalami gangguan pendengaran.

Selain itu, kita harus ingat bahwa kecepatan cahaya (299.792.458 meter per detik) sangat efektif dibandingkan dengan kecepatan bunyi (hanya 344 meter per detik). Sangat jauh perbedaannya. Makanya penggunaan cahaya sebagai pengganti signal suara sangatlah efektif.

Semoga kita semua makin sadar akan keselamatan berlalu lintas. Salam sehat

Read Full Post »

Active Income Vs Passive Income

Berkembangnya dunia Multi Level Marketing (MLM) adalah sebuah fenomena baru. Bagi sebagian orang, MLM adalah ladang bisnis yang menjanjikan, dan sebagian lainnya apatis bahkan membenci MLM. Ada yang bilang MLM haram, namun justru banyak tokoh agama terkemuka melihat MLM sebagai sarana meningkat kesejahteraan umat. Pro-kontra memang wajar. Kalau menurut pendapat pribadi MLM memang menawarkan sistim bisnis yang luar biasa hebat, dan mereka yang malas dipastikan tidak akan mampu bertahan di sistem pemasaran seperti ini. Dunia MLM sangat kental dengan bahasa Pasif Income atau Pendapatan Pasif. Trus apa hubungannya dengan kesehatan?

 Teringat ceramahnya seorang pengusaha, “tanam aset, itulah nanti yang akan menyelamatkanmu kemudian”. Benar, ini hampir sama dengan konsep asuransi, tanam premi dan nikmati kemudian. Lawan dari Pasif Income, ya udah pasti Aktif Income, :P. Dari segi kesehatan, Aktif Income sangat rentan untuk dijadikan sebuah tiang utama pendapatan. Sebab jika anda sakit, tiang penyangga ini benar-benar tiada berguna. Dampaknya kesehatan anda makin memburuk, karena kebutuhan pengobatan dan lainnya ikut ambruk.

Paradigma Kerja seorang Active Income

Lain halnya dengan Pasif Income. Dimana ketika anda sakit, aset-aset anda akan terus bergerak memenuhi kebutuhan keluarga anda dan pengobatan anda. Hebat khan, karena perbedaan utama dari Pasif dan Aktif Income adalah bagaimana sebuah penghasilan atau pendapat diperoleh, apakah anda yang bekerja ataukah aset anda yang bekerja.

Salam sehat…

Read Full Post »

Sumber : Google Picture

Surat keterangan sehat selalu menjadi salah satu persyaratan untuk melamar atau masuk dalam keanggotaan sebuah instansi. Namun seberapa efektifkah surat sakti ini dipergunakan. Jangan tanyakan dulu seberapa besar penggunaannya, cara mendapatkan cukup aneh bin ajaib.

Apakah ada seorang manusia ada yang benar-benar sehat 100%? Coba cari definisi sehat dari berbagai sumber. Saya kira hampir dari seluruh populasi manusia tidak seutuhnya sehat. Contohnya, saya pribadi, memang orang lain melihat saya sehat, tapi sebenarnya saya sakit, sakit hati sama kebijakan satu ini, hehe. Lantas, apa sih perlunya ada Surat Keterangan Sehat? Sudah pasti mas, mbak, bro, tujuannya jelas…. manipulasi, korupsi, kolusi, dan nepotisme, hehe.

Pengalaman pribadi…
“Ketika hendak mendaftar KKN (kuliah kerja nyata) di sebuah universitas di Sulawesi Utara, persyaratannya tercantum surat keterang sehat. Pihak kampus menyediakan surat tersebut untuk keperluan mahasiswa, namun bisanya pemeriksaan hanya sebatas nanya nama serta keluhan sakit sebelumnya. Dan surat sakti itupun diterbitkan. Bayar bung, mana ada gratis. Lumayanlah, Rp.15.000,- per lembar. Bayangkan jika yang hendak membuat surat keterang serupa ada 2.000 orang, :D.
 
Kejadian lain ketika hendak membuat surat serupa di puskesmas dekat tempat tinggalku. Waktu itu untuk keperluan kuliah. Kebetulan waktu itu saya lagi flu berat. Dokternya berujar, “Kamu lagi sakit, kok mintanya surat keterangan sehat?”. Saya hanya menjawab, “Dok, saya tidak mau, rencana studi saya batal, hanya karena flu.” Dokter pun hanya tersenyum sambil memberikan surat sakti itu, hehe.”

Hampir dipastikan pembuatan surat sakti ini selalu seiring sejalan dengan birokrasi mempersulit. Kental dengan peribahasa, “kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah?”. Surat Keterangan Sehat menjadi ladang uang bagi pembuat, atau siapun yang terlibat. Lihat dan coba dengarkan teman anda, keluarga anda, bahkan anda sendiri pernah merasakan bahwa pembuatan surat sakti ini selalu dimintai biaya yang tidak masuk akal. Hanya selembar kertas yang mungkin hargnya paling maksimal Rp. 500,- tapi oleh pembuatnya pasti dimintai biaya 10 bahkan 1.000.000 kali lipat harganya.

Lain halnya, jika anda ingin masuk di instansi tertentu, Surat Keterangan Sehat bahkan harganya mencapai puluhan juta. Yah, benar adanya, semuanya adalah cara-cara kotor untuk meloloskan mereka-mereka yang sebenarnya tidak lolos tes kesehatan. Duuuuh, negeri ini! Apakah para pembuat kebijakan negeri ini juga perlu surat keterangan sehat?

Read Full Post »

Hal-hal sepele dan sederhana itulah yang mampu membuat kita kewalahan di kemudian hari

Sederhana yang terlupakan? Yupz, banyak hal sederhana yang selalu luput dari perhatian kita. Padahal hal-hal sepele dan sederhana itulah yang mampu membuat kita kewalahan di kemudian hari. Contohnya adalah bagaimana kita melupakan pentingnya mencuci tangan. Apakah mencuci tangan hanya sesaat sebelum makan? Tidak kawan, kita harus sadari bahwa anggota tubuh yang super-duper-aktif melakukan aktivitas dengan kontak lansung dengan lingkungan luar adalah tangan kita.

yuk cuci tangan

Jangan lupa, tangan juga merupakan bagian tubuh yang paling sering bersentuhan dengan benda-benda di sekitar kita, yang belum tentu terjamin kebersihannya tentunya. Nah, dengan mudah pula, kuman menempel di tangan kemudian berpindah ke tempat lain. Entah karena kita kemudian memegang benda lain atau bahkan menyentuh bagian tubuh kita sendiri.

Tambahan pula, anggota tubuh yang paling sering berhubungan langsung dengan tangan adalah mulut dan hidung. Alhasil, tangan yang kotor menjadi salah satu penghantar utama masuknya kuman/mikroba penyebab penyakit ke dalam tubuh. Waow, masih ngak percaya yah bahwa 10 jarimu bisa mengendalikan kesehatan? Ekh, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) selalu mengingatkan bahwa derajat kesehatan dipengaruhi oleh faktor lingkungan (45%), faktor perilaku (30%), dan faktor pelayanan kesehatan (20%). Berdasarkan analisa lapangan berdasarkan faktor-faktor ini, disimpulkan bahwa derajat kesehatan masyarakat di Indonesia masih tergolong rendah. Jangan lupa, kesemua faktor ini saling memiliki keterkaitan satu sama lain. Ingat bosss, faktor perilaku sangat bergantung pada Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang salah satunya rajin cuci tangan.

Selain itu hasil survei dari KLH, Basic Human Services (BHS) di Indonesia pada tahun 2006 ditemukan bahwa perilaku cuci tangan setelah buang air besar hanya dilakukan oleh 12% masyarakat (waoooo, miris yah), lalu 9% setelah membersihkan tinja bayi dan balita, 14% sebelum makan, 7% sebelum member makan bayi, serta 6% sebelum menyiapkan makanan. Hal tersebut membuktikan rendahnya perilaku cuci tangan di masyarakat Indonesia.

Udah akh bahas data dan pentingnya cuci tangan. Pokoknya, jangan sungkan mengorbankan sekian detik waktu untuk cuci tangan, karena kita tak perlu buang-buang waktu dan uang guna harus terbaring di rumah sakit.

Trus, gimana sih, cuci tangan yang benar. Berikut ini tips mencuci tangan yang ok,

  1. Nyalakan keran, lebih diutamakan untuk menggunakan air yang tidak terlalu dingin atau air hangat yang mengalir
  2. Gunakan sabun cuci tangan cair (lebih diutamakan daripada sabun batangan)
  3. 3. Gosokkan kedua tangan baik telapak maupun punggung tangan, sela jari, dan kuku selama 20 detik
  4. 4. Pastikan Anda membersihkan seluruh tangan terutama pada daerah sekitar kuku dan sela jari
  5. Basuh kedua tangan sampai bersih dengan air keran
  6. Gunakan handuk untuk mengeringkan tangan
  7. Matikan keran dengan menggunakan handuk karena Anda membuka keran dengan tangan Anda yang masih kotor.

Ekh, jangan lupa simpan dalam note kalian bahwa Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS) jatuh pada tanggal 15 Oktober. Salam sehat…

Read Full Post »

Older Posts »