Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Puskesmas’ Category

Kebijakan dan kebijaksanaan merupakan dua kata yang mirip namun meliki arti yang jauh berbeda. Sebelumnya kata kebijakan belum dikenal, biasanya baik dibangku pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari kata kebijaksanaan-lah yang selalu digunakan. Kata ini diambil dari kata dasar “bijaksana”. Dalam ilmu manajemen, khususnya manajemen kesehatan, dikenal istilah kebijakan kesehatan.

Istilah kebijakan lebih mengarah pada proses “pengambilan tindakan secara normatif”, sedangkan kebijaksanaan lebih mengarah pada pengambilan tindakan di luar jalur normatif. Misalnya, harga pelayanan medis di rumah sakit adalah Rp. 10.000.000, namun karena kebijaksanaan, biaya tersebut dapat dipangkas menjadi Rp. 1.000.000 mengingat kondisi ekonomi pasien.
Contoh lainnya, telah menjadi kebijakan bahwasanya penerima jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin adalah mereka yang sesui dan layak, namun karena sebuah kebijaksanaan, seseorang yang berekonomi menengah ke atas dapat merasakan layanan ini. Ini juga termasuk kebijaksaan yang bersifat kolusi.

Pada intinya, kebijaksaan dapat di arahkan ke hal positif atau negatif tergantug pada pengambil kebijakan.

Advertisements

Read Full Post »

Kemarin ketika kuhendak berkunjung ke Puskesmas Bahu (Kota Manado) bermaksud untuk mengurus Surat Keterangan Berbadan Sehat. Kutemui banyak bayi (dibaca : Calon pemimpin negeri berjejer mengantri. Ternyata mereka lagi semangat untuk mendapatkan “jatah” imunisasi, hehe. Teringat akan masa-masa dimana aku jadi bayi (emangnya bisa ingat yah, hehe).

Andai semua bayi sadar akan pentingnya imunisasi, ups, maksudnya orang tua si bayi. Mungkin 10 atau 20 tahun kedepan, kasus polio, campak, tetanus, dst, insyaallah musnah dari negeri ini. Salam… buat ibu-ibu yang sadar sehat.

Read Full Post »

Selama ini biaya persalinan dianggap “lumayan” memberatkan bagi masyarakat kita yang notabene di bawah garis merah. Ternyata harapan untuk mendapatkan biaya persalinan gratis akan segera terwujud. Bulan Maret 2010 rencana program pemerintah untuk memberikan cuma-cuma pelayanan kesehatan untuk ibu hamil ini akan segera terealisasi. Alhamdulillah, ini adalah langkah maju pemerintah untuk mengurangi rasa malu terhadap dunia. Selama ini, Indonesia “digosipkan” sebagai negara penyumbang kematian ibu tersebar se Asia.

Angka kematian ibu untuk Indonesia berada pada posisi 228/100.000 penduduk (ini mah data lama). Pada tahun 2009, tamparan nyata muncul ketika secara bersamaaan Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Pasifik (UNESCAP), Program Pembangunan PBB (UNDP), UNFPA, dan WHO menyatakan, kenaikan Angka Kematian Ibu (AKI) telah berada pada posisi 420/100.000 penduduk. Humm, ambil sisi positifnya aja deh bahwa data ini meyakinkan kita bahwa jumlah penduduk yang disubsidi negara ini makin berkurang, hehe.

Syukurlah kalau pemerintah kita masih memiliki rasa malu. Mungkin dengan dana sebesar Rp 1,45 triliun menunjukan keseriusan pemerintah terhadap buruknya pelayanan kesehatan dalam proses produksi aset negara (percayalah bahwa penduduk yang besar akan menjadi aset yang sangat bernilai, namun teori dua sisi mata koin tetap berlaku pada kasus ini). Target MDGs 2015 yang menjadi cita-cita Kementrian Kesehatan untuk menekan anggka kematian ibu hingga pada posisi 110/100.000 penduduk bisa terwujud, amin.

Lantas siapakah yang berhak mendapatkan layanan gratis ini? Yang jelas pria tidak mendapatkan layanan ini, haha. Layanan ini menjadi hak bagi seluruh kaum ibu yang hendak melahirkan, entah dia kaya, miskin, buta huruf, berpendidikan, cantik, jelek (hehe, menurut aku sih semua ibu itu cantik :D), pokoknya semua deh. Makanya jangan sia-siakan kesempatan ini, apalagi program tersebut sudah termasuk di antaranya paket kontrol hamil empat kali, persalinan sendiri, ASI eksklusif, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), kontrol pada waktu nifas, dan KB. Wah, mantap khan program pemerintah yang satu ini.

Dimana kita bisa mendapatkannya? Layanan ini bisa didapatkan di seluruh puskesmas, poliklinik desa, atau  kamar kelas III Rumah Sakit Umum di seluruh Indonesia. Ingat… proses persalinan pada dukun tidak disubsidi dengan program ini. Yang bisa jadi kendala adalah daerah terpencil yang tidak memiliki sarana penunjang di atas. Semoga pola pembangunan kesehatan menuju ke arah yang berkesinambungan untuk menjangkau seluruh wilayah NKRI, amin.

So, buruan produksi anak sekarang sebab masuk tahun 2012, layanan gratis ini dibatasi untuk anak pertama dan kedua saja, hehe. Nieh, ada pesan dari Ibu MenKes “Jangan mentang-mentang persalinan ditanggung pemerintah lalu punya anak banyak, lima atau enam anak…“. Kayaknya Dewi Kesehatan negeri ini, masih tetap teguh dengan kampanye dua anak cukup.

Salam sehat dari Chevi Chenko

Read Full Post »

Mendapatkan kesehatan adalah hak semua umat manusia. Sehat adalah hak Anda tentunya, tapi kalau sakit, entahlah itu termasuk hak juga? hehe. Selama ini kita menganggap bahwa kepedulian kita terhadap kesehatan apabila kita sakit, hendak sakit, melihat orang sakit, atau sekedar khawatir dan takut sakit. Main-set ini terus hidup di masyarakat kita. Paradigma sakit adalah kacamata yang selalu digunakan untuk melihat sektor kesehatan.

Memangnya salah yah jika kita berparadigma sakit? Hummm. Penulis sendiri tidak mampu menjelaskan dampak lansung dari paradigma ini. Namun secara analogi kita bisa menarik kesimpulan. Pola pikir (main-set) adalah pembentuk tindakan, tindakan adalah pembentuk sikap, sikap adalah pembentuk kebiasaan, dan kebiasaan inilah yang akan terus menjadi pola hidup dan tradisi kuat yang susah akan dirubah.

Walau tidak dapat mewakili secara keseluruhan dampak dari berparadigma sakit, kita dapat melihat contoh sederhana. Misalnya, seorang perokok diberikan penyuluhan akan bahaya dari kebiasaan merokok. Biasanya sang perokok akan memberi argumen “Aku sehat-sehat saja, tidak sakit akibat rokok”. Inilah contoh sederhana bahwa seseorang sadar sehat jika telah “mencicipi” bagaimana itu sakit.

Pola pikir ini bisa saja dibangun dari bentukan sistem kesehatan itu sendiri. Anda bisa melihat sendiri dimana rumah sakit (ingat ini adalah tempat bagi orang sakit) dibangun dengan mewahnya sedangkan Pusat Kesehatan Masyarakat (seharusnya inilah tempat orang sehat untuk membangun kesehatan komunitas) terus tertinggal. Dan lebih menyedihkan lagi bahwa Puskesmas seolah-olah dianggap sebagai pengekor Rumah Sakit tapi ditujukan untuk masyarakat golongan lemah. Dimana lagi kita bisa belajar akan pentingnya sehat jika Puskesmas telah berganti kiblat ke arah penyembuhan dan pengobatan dan telah menyepelehkan pembinaan masyarakat untuk berorientasi peventif (pencegahan).

Secara teori Puskesmas adalah institusi kesehatan yang berfokus ke arah preventif dan promotif. Namun benarkah demikian adanya? Belum tentu. Saya yakin Anda, keluarga Anda, dan mungkin tetangga Anda ketika berkunjung ke Puskesmas dengan membawa alasan “lagi sakit dan mau berobat”. Belum pernah kudengar ungkapan “Aku mau ke Puskesmas karena aku sehat, dan ingin terus sehat

Mengawali awal tahun 2011 ini, marilah kita bangun keberdayaan individu untuk membentuk kesaradan berparadigma sehat. Saatnya kita meninggalkan “kacamata” sakit. Kesadaran individu adalah fondasi untuk membentuk kesadaran komunitas sehingga cita-cita bangsa menuju bangsa yang sehat segera terwujud. Ingat sehat adalah hak Anda. Apakah Anda mau menyia-nyiakan hak Anda?

 

Salam sehat…

Oleh Chevi Chenko

Read Full Post »

Tahun 2010 selangkah lagi meninggalkan kita. Tahun 2010 merupakan bagian dari alur untuk menuju masa lebih baik, salah satunya adalah sektor kesehatan. Menuju tahun 2011, permasalahan dan tantangan kesehatan masih terus hadir. Diperlukan kerja keras dan kerja cerdas untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan tujuan Negara. Tulisan kali ini akan mencoba mereview tantangan pada tahun 2010 yang akan terus menjadi PR pada tahun 2011.

Pertama, kesenjangan status merupakan tantangan utama yang dihadapi pemerintah. Adanya perbedaan mencolok antar daerah kaya dan daerah miskin (provinsi atau kabupaten/kota). Selain itu perbedaan status kesehatan antara si kaya dan si miskin merupakan kesenjangan antar tingkatan sosial-ekonomi. Adanya dikotonomi Indonesia Barat dan Indonesia Timur merupakan kesenjangan antar kawasan. Serta disparitas antara perkotaan dan pedesaan masih tinggi adalah tantangan yang menunujukan bahwa isi kesenjangan kesehatan belum teratasi.

Kedua, masih rendahnya status kesehatan penduduk miskin. Label “miskin” adalah bagian masyarakat yang paling rentan terhadap ancaman kesehatan. Persediaan air bersih dan makan bergizi, pendidikan yang rendah, lingkungan yang jorok merupakan contoh diantara sekian banyak masalah yang dihadapi penduduk miskin. Walaupun pemerintah telah bereksperimen melalui program jamkesmas namun belum sepenuhnya berhasil jika tidak difondasi pengetahuan dan kesadaran pola hidup sehat.

Ketiga, adanya beban ganda penyakit. Double burden melanda hampir seluruh negara berkembang. Kita dihadapkan dengan dua jenis tren-penyakit. Di salah satu sisi kita masih berjibaku dengan penyakit “usang” seperti tetanus, rabies, polio, malaria. Dilain sisi kita berhadapan dengan tren penyakit “dunia modern” yaitu penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, diabetes dan osteoporosis. Namun, jangan lupa bahwa kita menuju kearah triple burden dimana kita sedang bertarung berbagai jenis penyakit baru seperti SARS, H5N1 dan sebagainya. Ancaman pandemi dengan varian virus yang barus terus membayangi umat manusia.

Keempat, tidak meratanya kualitas, kuantitas dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. Tidak meratanya ketiga hal ini merupakan realita lapangan yang tidak bisa disembunyikan. Ketidak-merataan tiga hal ini menyebabkan timbulnya masalah yang diungkapkan pada poin pertama, yaitu kesenjangan status kesehatan.

Kelima, perilaku masyarakat yang belum mendukung. Kebiasaan merokok adalah permasalah yang sangat menonjol di bangsa pengagum tembakau ini. Satu dari empat orang penduduk Indonesia adalah perokok. Makanya merupakan kebanggaan bahwa bangsa ini menduduki posisi 3 sebagai negera penelan asap. Perilaku lain seperti membuang sampah sembarangan juga merupakan kebiasaan penduduk bangsa ini. Dan masih banyak lagi kebiasaan buruk yang tidak menunjang kenaikan status kesehatan. Semua ini diperlukan promosi dan pendidikan kesehatan secara berkelanjutan.

Keenam, pembiayaan kesehatan yang belum memadai. Anggaran kesehatan yang masih berada di posisi 2,3 dari total APBN merupakan salah satu faktor lemahnya sektor kesehatan negeri ini. Saran WHO untuk meningkatan angka penggaran kesehatan hingga posisi 5% dari APBN selalu dianggap angin lalu.

Ketujuh, kuantitas, kualitas, distribusi serta pendayagunaan SDM Kesehatan. Buruknya sistem dan regulasi ketenaga kerjaan khususnya di sektor kesehatan merupakan bagian yang menyumbang lemah status kesehatan negeri ini. Fokus pemerintah yang selama ini untuk tenaga medis, tidak dibarengi dengan menguatnya tenaga penyuluh dan promosi kesehatan. Padahal tenaga kesehatan preventif adalah ujung tombak menuju Indonesia sehat.

Tujuh problem ini akan terus menjadi PR di tahun 2011. Eits… Apakah Anda percaya bahwa program pemerintah Indonesia Sehat 2010 telah tercapai dengan sukses? Terserah Anda menilainya, dengan tolak ukur apa, dan dengan kaca-mata apa Anda melihatnya. Saatnya kita bersiap-siap menghadapi tantangan untuk masa 2010.

Salam sehat..
by Chevi Chenko

Read Full Post »

Dimana lagi?

“Pak, kalo mau ambil surat keterangan sehat harus antri dimana yah?” ujar seorang bocah.

“Di loket 1, kalau ada kartu ASKES tunjukan joh sekalian” ujar seorang pria yang kira-kira berumur 35 tahun.

Singkat cerita, bocah itu melanjutkan kisah di Puskesmas Bahu Manado Sulawesi Utara untuk mengantri selama 5 menit, menunggu panggilan untuk diperiksa 20 menit. Si bocah itu adalah saya sendiri, ini pengalamanku ketika “bermain” ke puskesmas terdekat di lingkunganku. Kunjungan pertama sejak 4 tahun kuinjakkan kaki di Kota Tinutuan ini (sebutan lain untuk Kota Manado). Kalender menunjukan 23 Februari 2010, sungguh hari yang cerah kala itu, hehe.

Selama 20 menit penantianku ku manfaatkan waktu untuk membaca koran yang telah kubeli, sambil mengamati lingkungan sekitar. Ternyata di samping kiri, kanan, muka, belakang, tengggara, barat daya, dst, pokoknya semua penjuru mata angin telah penuh sesak dengan orang lain. Dalam hati aku bergumam, “ternyata kesadaran masyarakat sini untuk sehat sangat tinggi yah“. Untuk membuktikan kucoba berbincang dengan seorang bapak disampingku.

“Pak, sehat joh? (joh = saja, aja. Istilah dalam bahasa Manado)

Ta pe darah rupa nae sto no, ada makan daging kalamarin, napa ta pe istri leh rupa sama” (Kayaknya gula darah saya naik, karena makan daging kemarin, nih, istri saya juga sama).

Hei.. udah dulu yah acara diskusinya, sebab kali ini penulis tidak membahas setting kejadian waktu itu, ehehe. Kali ini penulis akan menggambarkan kesalahan penerjemahan kata baik puskesmas maupun rumah sakait. Yuk, baca dan pahami,..

Kata RUMAH SAKIT berasal dari dua kata “rumah” dan “sakit”. Ndak perlu Kamus Besar Bahasa Indonesia, kedua kata ini jelas dipahami maknanya. Rumah = tempat menginap, tinggal, sedangkan untuk kata sakit = ketidak-mampuan berproduksi, kondisi lemah. Jadi, kira-kira definisi rumah sakit adalah tempat menginap bagi orang yang lemah/sakit. Walau dalam defini menurut WHO lebih komplit, yaitu sebagai berikut : ”The hospital is an integral part of social and medical organization, the function of which is to provide for the population complete health care both curative and whose outpatient service reach out to the family and as home environment, the hospital is also a center for the training of health workers and for bio social research”. Tapi khan, intinya sama yaitu untuk merawat orang sakit.

Nah, ini dia kesalahan penerjamahan kata….

Kata Puskesmas, secara penulisan yang benar adalah PUSKESMAS karena merupakan singkatan dari Pusat Kesehatan Masyarakat. Singkat lain yang lebih trendy adalah PKM. Jadi kata PUSKESMAs bersumber dari tiga kata yaitu “pusat”, “kesehatan”, dan “masyarakat”. Tanpa penjelasan lebih, sebenarnya hampir semua yang membaca artikel mampu memahami tiap kata ini.

Pertanyaanya. Apakah PUSKESMAS merupakan pusat/central dari kegiatan yang “berbau” kesehatan komunitas? Jawabannya adalah TIDAK. Penulis sendiri merasakan bagaimana suasana puskesmas kala aku berkunjung. Entahlah, semoga ini hanya versi penulis. Sungguh puskesmas yang aku kunjungi jauh dari bayangan bahwa puskesmas adalah centre of public health. Kini dalam benakku, puskesmas hanya “rumah sakit” mini bagi kita-kita yang berkantung tipis.

Stigma ini terus kuamini, karena teman2 juga merasakan hal yang sama (hasil curhat teman yang magang di puskesmas). Padahal aku merindukan posisi puskesmas sebagai pusatnya orang-orang sehat dan orang-orang yang ingin sehat bukan sebagai hasil impor orang rumah sakit. Dimana lagi kami bisa belajar makna sehat kalau bukan puskesmas. Dimana lagi kami bisa konseling KB kalau bukan puskesmas. Dimana lagi kami bisa konseling untuk berhenti merokok kalau bukan puskesmas. Dimana lagi kami bisa mendapat informasi air bersih, jamban sehat, cara cui tangan, de es te.

Aku hanya bisa berteriak lewat blog kacangan ini (pensiun dari demostran jalanan, hehe), Wahai Bu Menkes, yang sekolahnya sampai di Harvard, strategi apakah yang engkau yakini? Apakah engkau ingin membenamkan kami ke paradigma sakit untuk selamanya? Kami juga ingin wadah komunikasi agar kami sehat? Sudah cukup kantong kami terkuras gara-gara, doa kalian agar kami sakit. Kami miskin, kami yakin MISKIN DILARANG SAKIT, tapi kami juga percaya, MISKIN BERHAK UNTUK SEHAT. Berilah kami puskemas yang berorientasi sehat.

Salam sehat untuk Indonesia

Read Full Post »

A. Fungsi Puskesmas
Puskesmas merupakan salah satu jenis organisasi yang sangat dirasakan oleh masyarakat umum. Seiring dengan semangat reformasi dan otonomi daerah maka banyak terjadi perubahanyang mendasar dalam sektor kesehatan, yaitu terjadinya perubahan paradigma pembangunan kesehatan menjadi ‘Paradigma Sehat’. Dengan paradigma baru ini, mendorong terjadinya perubahan konsep yang sangat mendasar dalam pembangunan kesehatan, antara lain :
a. Pembangunan kesehatan yang semula lebih menekankan pada upaya kuratif dan rehabilitatif, menjadi lebih fokus pada upaya preventif dan kuratif tanpa mengabaikan kuratif-rehabilitatif,
b. Pelaksanaan upaya kesehatan yang semula lebih bersifat terpilah-pilah (fragmente ) berubah menjadi kegiatan yang terpadu (integrated),
c. Sumber pembiayaan kesehatan yang semula lebih banyak dari pemerintah, berubah menjadi pembiayaan kesehatan lebih banyak dari masyarakat,
d. Pergeseran pola pembayaran dalam pelayanan kesehatan yang semula fee for service menjadi pembayaran secarapra-upaya,
e. Pergeseran pemahaman tentang kesehatan dari pandangan konsumtif menjadi investasi,
f. Upaya kesehatan yang semula lebih banyak dilakukan oleh pemerintah, akan bergeser lebih banyak dilakukan oleh masyarakat sebagai “mitra” pemerintah (partnership),
g. Pembangunan kesehatan yang semula bersifat terpusat (centralization), menjadi otonomi daerah (decentralization),
h. Pergeseran proses perencanaan dari top down menjadi bottom up seiring dengan era desentralisasi.

B. Upaya Pelayanan Masyarakat
Upaya pelayanan masyarakat dapat di bedakan menjadi 2 :
1. Upaya Kesehatan Wajib
a. Upaya Promosi Kesehatan
b. Upaya Kesehatan Lingkungan
c. Upaya Kesahatan Ibu dan Anak dan KB
d. Upaya perbaikan Gizi Masyarakat
e. Upaya Pemberantasan Penyakit Menular
f. Upaya Pengobatan
2. Upaya Kesehatan Pengembangan
a. Upaya Kesehatan Sekolah
b. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
c. Upaya Kesehatan Kerja
d. Upaya Kesehatan Mata
e. Upaya Kesehatan Usia Lanjut
f. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional
g. Upaya Laboratorium Medis dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat serta peningkatan Surveiland Epidemiologi untuk pencatatan
h. Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK) dan PKPSBBM

C. Pembiayaan Puskesmas
Sumber Pembiayaan Puskesmas antara lain :
1. Pemerintah
Sumber biaya berasal dari Pemerintah Kabupaten yang dibedakan atas dana pembangunan dan dana anggaran rutin. Dana ini diturunkan secara bertahap ke Puskesmas melalui Dinas Kesehatan Kabupaten.
2. Retribusi
Retribusi merupakan salah satu sumber pendapatan Puskesmas yang membiayai upaya kesehatan perorangan yang pemanfaatanya dan besarnya ditentukan oleh Pemerintah Daerah.
3. PT. ASKES
Puskesmas menerima dana dari PT. ASKES yang peruntukannya sebagai imbal jasa kepada peserta ASKES yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS)
4. PT. JAMSOSTEK
Puskesmas menerima dana dari PT. JAMSOSTEK yang peruntukannya sebagai imbal jasa kepada peserta JAMSOSTEK yaitu Pegawai / karyawan yang berada dibawah naungan Dinas Tenaga Kerja.
5. BPP (Badan Penyantun Puskesmas)
Dengan memberdayakan potensi yang dimiliki masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

D. Model Organisasi Puskesmas Era Desentralisasi
Pengembangan model puskesmas mengikuti skenario yang paling sesuai dengan kondisi lingkungan dan kinerja puskesmas. Dikembangkan dua skenario besar, yang pertama skenario pada kondisi dimana sistem pembayaran didominasi oleh out of pocket. Pada skenario ini kondisi lingkungan puskesmas yang harus diperhatikan adalah daya beli masyarakat, beban pelayanan public goods dan kondisi persaingan dengan swasta. Skenario kedua didasarkan pada kondisi dimana sistem pembayaran sudah didominasi oleh sistem asuransi atau jaminan, sebagaimana diamanatkan oleh UU SJSN, maka kondisi lingkungan yang harus diperhatikan adalah besarnya persaingan dengan swasta dan besarnya beban public goods yang harus ditanggung.
Dengan dikembangkannya skenario tersebut, maka setidaknya akan ada 4 macam model puskesmas, yakni :
1. Puskesmas public enterprise,
2. Puskesmas public goods,
3. Puskesmas private goods dan
4. Puskesmas konvensional.
Pada kondisi ekstrem, akan dilakukan liquidasi atau merger dengan puskesmas terdekat. Untuk puskesmas Industri, Pariwisata, Pedesaan, dan Perkotaan tetapan mengikuti skenario. Selengkapnya skenario tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Table 1. Skenario pengembangan puskesmas pada kondisi sistem pembayaran didominasi oleh out of pocket.

Daya Beli Masyarakat
Tinggi Rendah
Beban

 

Public Goods Tinggi

Persaingan dengan Swasta Tinggi Puskesmas Public Goods Puskesmas Public Goods
Persaingan dengan Swasta Rendah Puskesmas Public Enterprise Puskesmas

 

Konvensional

Beban

 

Public Goods Rendah

Persaingan dengan Swasta Tinggi Puskesmas Public Enterprise, atau Liquidasi Liquidasi atau Merger
Persaingan dengan Swasta Rendah Puskesmas Private Goods Puskesmas Konvensio

Table 2. Skenario pengembangan puskesmas pada kondisi sistem pembayaran didominasi oleh sistem asuransi atau jaminan.

Beban Public Goods
Tinggi Rendah
Persaingan dengan swasta Tinggi Puskesmas

 

Public Goods

Likuidasi atau

 

Merger

Rendah Puskesmas Public Enterprise Puskesmas Public Enterprise, Private Goods

Sumber : Ilham Akhsanu Ridlo

Read Full Post »

Older Posts »