Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hospital’ Category

Kebijakan dan kebijaksanaan merupakan dua kata yang mirip namun meliki arti yang jauh berbeda. Sebelumnya kata kebijakan belum dikenal, biasanya baik dibangku pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari kata kebijaksanaan-lah yang selalu digunakan. Kata ini diambil dari kata dasar “bijaksana”. Dalam ilmu manajemen, khususnya manajemen kesehatan, dikenal istilah kebijakan kesehatan.

Istilah kebijakan lebih mengarah pada proses “pengambilan tindakan secara normatif”, sedangkan kebijaksanaan lebih mengarah pada pengambilan tindakan di luar jalur normatif. Misalnya, harga pelayanan medis di rumah sakit adalah Rp. 10.000.000, namun karena kebijaksanaan, biaya tersebut dapat dipangkas menjadi Rp. 1.000.000 mengingat kondisi ekonomi pasien.
Contoh lainnya, telah menjadi kebijakan bahwasanya penerima jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin adalah mereka yang sesui dan layak, namun karena sebuah kebijaksanaan, seseorang yang berekonomi menengah ke atas dapat merasakan layanan ini. Ini juga termasuk kebijaksaan yang bersifat kolusi.

Pada intinya, kebijaksaan dapat di arahkan ke hal positif atau negatif tergantug pada pengambil kebijakan.

Read Full Post »

cepat menuju sasaran

Ilmu manajemen akan terus berkembang mencari formulasi terbaik guna mencapai kesempurnaannya. Pencapaian kesempurnaan memang susah, bahkan mustahil, namun usaha manusia ke arah itu takkan pernah selesai. Seperti itulah manusia, dimana tercipta sebagai khalifah di atas muka bumi. Layak mendapat gelar khalifah karena rasa ingin tahu melalui akan pikiran dan dibarengi dengan tindakan uji coba.

Manajemen ala ambulance sebagaimana judul di atas, mungkin tak pernah ada buku-buku atau bahan kuliah dimanapun. Istilah ini hanyalah ide dari penulis sendiri. Berangkat dari realita lapangan bahwasanya segala sesuatu yang berkaitan dengan manajemen dan administrasi selalu terkesan lamban, dan loyo. Maka penulis menghadirkan “manajemen ala ambulance“.

“An ambulance is a vehicle for transportation of sick or injured people to, from or between places of treatment for an illness or injury” Henry Alan Skinner dalam bukunya “The Origin of Medical Terms”.

Manajemen ala ambulance, bukan tema sakitnya sebenarnya yang hendak ditekankan, melainkan begitu efektif dan cepatnya transportasi ini menuju tujuan atau sasaran. Manajemen ala ambulance sangat cocok untuk kondisi yang bersifat urgent. Kondisi dimana, jika terjadi keterlambatan akan berakibat fatal dan bahkan mematikan sebuah proses organisasi, akan sangat membutuhkan manajemen ala ambulance.

bisa melewati semua jalur
bebas hambatan

Manajemen ala ambulance, memungkinkan jenjang organisasi paling bawah bisa berkonsultasi dengan top manajerial sekalipun. Metode ini hampir mirip dengan tindakan inspeksi. Namun perbedaannya, sebuah inspeksi bersifat privat, mendadak dan tanpa ada pemberitahuan ke bagian atau orang yang hendak diinvestigasi. Sedangkan manajemen ala ambulance, terbuka untuk umum dan terdapat jalur yang  jelas sebagai bahan petunjuk bahwasanya manajemen ala ambulance bisa digunakan.

Memang alangkah indahnya, andaikata semua proses manajemen berjalan dengan manajemen seperti ini. Namun, seperti halnya kondisi jalanan, ada yang sempit, berluabang, banyaknya kendaraan, jangkauan, dan lain sebagai yang tidak memungkin hal ini terjadi. Oleh sebab itu, manajemen ala ambulance adalah jawaban untuk proses manajemen saat ini, untuk kondisi tertentu saja.

Read Full Post »

Badut Rumah Sakit

 

sumber : google search

Salah satu organisasi badut internasional Christensen membuat ulah yang cukup unik di berbagai rumah sakit Amerika Serikat. Organisasi ini sedang gencar mengkampanyekan pentingnya senyum dan keceriaan di rumah sakit. Image bahwa rumah sakit adalah tempat yang menakutkan terutama bagi anak-anak perlahan-lahan dikurangi.

Metode yang disebut “clown care” ini telah diadopsi lebih dari 80 rumah sakit. Christensen percaya bahwa metode ini selain memberi rasa humor, badut-badut ini juga memberi semangat untuk seseorang lekas sembuh.

The Raoul Walenberg Humatarian Award, the red Skelton Award, dan Parenting Magazine’s Lifetime Achievement Award adalah bukti bahwa organisasi ini mampu memberi arah yang lebih baik untuk pelayanan rumah sakit. Kita tunggu inovasi seperti ini di rumah sakit terdekat.

Salam sehat

Read Full Post »

Sudah menjadi rahasia umum bahwa berobat itu sangatlah mahal. Makanya wajar banyak orang yang berposisi di garis merah (dibaca: miskin) tidak mampu untuk berobat. Taukah kamu kenapa biaya pengobatan begitu mahal?

Dua faktor yan bisa menyebabkan besarnya biaya pengobatan yaitu: dari kita sendiri dan institusi kesehatan. Yuk kita lihat satu per satu.

Institusi kesehatan
Yang saya maksud sebagai institusi kesehatan disini adalah semua tetek-bengek dunia medis. Peralatan medis makin canggih dapat menyebabkan makin tingginya biaya pengobatan. Selain itu tingginya biaya medis dapat disebabkan oleh para dokter sering memberikan pemeriksaan diagnosis, prosedur dan terapi lain yang sebenarnya tidak diperlukan oleh pasien. Bergesernya paradigma mengobati pasien dari tugas sosial menjadi mesin uang, mafia medis, dan regulasi yang minim dimana tidak adanya standar biaya tiap tindakan medis merupakan faktor-faktor yang tidak bisa dipisahkan. Selain itu, tingginya biaya pendidikan kesehatan menghasilkan SDM yang bisa saja berorientasi “balas-dendam“.

Kita sendiri
Kelalaian (dibaca: kebodohan) kita sendiri adalah lupa akan pribahasa mencegah lebih baik daripada mengobati (entah lupa atau pura-pura lupa). Kesehatan dengan ber-kacamata-sakit menjadi “idola” mayoritas masyarakat dimana kita hanya memandang pentingnya kesehatan dikala sakit. Padahal dengan posisi sakit, otomatis penyembuhan dan pengobatan menjadi barang/jasa/komoditas yang urgent. Barang yang mendesak selalu memiliki nilai tawar yang mendekati nol. Bahkan posisi pasien nampak sebagai pihak yang tidak berhak dalam pengambilan keputusan mengenai biaya pengobatan.

So, beberapa tips terbaik untuk mengurangi tinggi biaya pengobatan:

  • Sadar sehat sebelum sakit
  • Jadilah pasien yang kritis, tanyakan manfaat semua tindakan medis dan obat-obat yang tertera di resep.

Kutunggu saran dan kritik darimu, salam sehat.

Read Full Post »

Hidup adalah sebuah pilihan. Pilihannya bukan sekedar untuk bertahan hidup atau gagal hidup. Aku yakin makna pepatah di awal, bukanlah berdefinisi seperti itu, mungkin lebih tepatnya diartikan “hidup dengan berbagai macam pilihan”. Entah memilih judul posting, memiliki suku kata untuk sebuah rubrik, maupun untuk memilih mau nulis atau ngak sih, kesemuanya merupakan pilihan.

Hari ini, aku terbangun dengan berbagai macam pilihan. Yang pertama muncul sih, “mau bangun atau belum yah?”, hehe. Selanjutnya ada berbagai macam pilihan aktivitas harian menghampiriku. Berhubung tulisanku hanya seputaran kesehatan, maka kisahku hari ini jatuh ke pilihan “mau berobat atau ndak yah?”.

Aku sebenarnya tipe orang yang malas berobat, sebab I believe di dalam tubuh yang paling dalam terdapat “obat alamiah”. Alasan kedua, ngantrinya pasti paaaanjang. Alasan ketiga, semakin banyak aku mengonsumsi obat makin lemah daya tahan tubuhku (teori pribadi, hehe). Alasan keempat, kelima, keenam, dan seterusnya hanyalah alasan untuk mebenarkan alasan-alasan yang tidak terbukti secara ilmiah alasan-alasan sebelumnya, hehe.

Sampailah aku di Puskesmas Bahu (sarana kesehatan terdekat di daerahku, di Kota Manado) ternyata keputusanku bulat untuk memilih berobat. Eits.… kali ini aku tidak mau berdongeng tentang perjalanan hidupku hari ini, cukuplah ini jadi introduction, hehe. Perjalananku ke puskesmas inilah yang memberiku inspirasi untuk menulis “Si Raksasa yang Manja” Raksasa yang manja? Memang ada yah?… Makanya simak dulu :D…

Di bangku kuliah aku sering diajarkan bahwa rumah sakit sedang menderita sindrom “puskesmas raksasa”. Aku jelaskan dikit yah (sekedar sharing, bukan sok tau, hehe), Puskesmas lazimnya adalah sarana kesehatan yang bersifat promotif, preventif dan juga melakukan tindakan medis dasar. Sedangkan rumah sakit merupakan tempatnya orang sakit yang lebih berorientasi pada pengobatan dan rehabilitasi.

Namun apa dikata, masyarakat kita hanya untuk mendapatkan tindakan medis dasar saja harus berduyung-duyung ke rumah sakit. Maka rumah sakitpun kewalahan untuk menampung pasien yang seharusnya bisa dirawat ditangani oleh puskesmas. Dari sinilah muncul teori rumah sakit = pusesmas raksasa.

Emang salah yah, jika kita mau berobat lansung ke rumah sakit? Tidak salah, wong apa gunanya disebut rumah sakit, lantas mengeluh jika kebablasan orang sakit. Ini dia, raksasa kok mengeluh. Di lain pihak Pusat Kesehatan Masyarakat (puskesmas) kini dijadikan sarang orang sakit. Kamus manapun tidak akan setuju jika definisi puskesmas = tempat orang sakit. Kalau rumah sakit = tempat orang sakit, yah wajar dong. Makanya…. Jadi raksasa jangan cemen donk. Dan satu lagi (ini sih doaku), kembalikan fungsi puskesmas sebagai sarangnnya orang sehat, tempat kami mendapatkan informasi kesehatan dan penyuluhan pentingnya hidup sehat.

* jika doaku terkabul, maka tempatku berkunjung kala sakit tidak lagi di puskesmas, hehe

Salam sehat

Read Full Post »

Sebuah pernyataan menarik dari salah seorang professor Universitas Bournemouth Inggris menyatakan bahwa “makanan di penjara lebih bergizi dibanding makanan di rumah sakit milik pemerintah”. Professor Jhon Edwards selaku peniliti juga mengungkapkan bahwa hal ini berbading terbalik dengan narapidana yang berada di dalam penjara sebab narapidana diberikan nutrisi yang sangat lengkap dan berkualitas baik.

Weleleh, kok bisa gitu yah… Selain kurang bergizi ternyata kebanyakan makan di rumah sakit pemerintah tidak berselera. Tau sendiri khan orang sakit tuh makannya “milih-milih”. Khan lagi sakit jadi selera makannya jadi aneh, hehe. Konon, 50 persen makanan rumah sakit di Jepang terbuang karena tidak “enak” dan di Inggris dana sekitar Rp 800 miliar terbuang sia-sia karena makanan rumah sakit yang tidak habis. Emang sih, belum tentu makan yang bergizi itu sesuai dengan selera kita. Makanya berdoa deh, moga-moga rumah sakit di negeri ini memiliki menu makanan yang enak dan bergizi, hehe (ngarep).

Sebagai penutup, kami beri pertanyaan buat pembaca (di jawab yah). “Percayakah Anda makanan di penjara lebih bergizi daripada makanan di rumah sakit pemerintah?

*Aku sih percaya, yakin deh, makanan si Gayus kampret dkk, lebih enak dan bergizi dari makanan rumah sakit pemerintah terbaik manapun di negeri ini, hehe.

Salam sehat

Read Full Post »

Jumlah penduduk Indonesia lebih dari 200 juta jiwa, 1% persennya adalah pecandu berobat ke luar negeri.

Dengan kata lain, kira-kira 2 juta warga kita mencicipi layanan kesehatan di negeri asing. Mungkin yang termasuk 1 persen ini adalah para koruptor kita yang selalu beralasan berobat jika hendak ditangkap. Tapi kok berobatnya harus jauh-jauh yah, padahal inilah alasan klasik agar bisa jalan-jalan di tengah badai kasusnya, hehe.

 

Pemerintah Singapura menargetkan per tahunnya 1 juta Warga Negara Indonesia (WNI) berobat ke negaranya.

Ini sih ucapan bung Fahmi Idris pimpinan IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Hampir separuh dari warga kita yang berobat ke luar negeri pernah merasakan indahnya layanan kesehatan di negara singa ini.

 

Ada teman saya sesama pengusaha, untuk periksa gigi saja mesti ke Singapura.

Kali ini sindirin dari Irwan Hidayat yang merupakan big bos dari PT Sido Muncul. Krisis kepercayaan terhadap pelayanan medis negeri kita. Wong di negeri ini masih ada 85 ribu  tenaga dokter yang bisa menangani urusan gigi. Kelak untuk cek bulu hidung  aja mungkin perlu mengurus visa keberangkatan, hehehe.

 

PADAHAL

Teknologi dan profesionalitas dokter di Indonesia tidak kalah dengan negara tetangga, seperti Singapura.

Mungking dengan tren “GARUDA DI DADAKU” bisa menjadi saat yang tepat untuk menyadarkan pengusaha, konglomerat, atau siapapun deh yang berpikiran kolot bahwa negeri ini masih kalah jauh dengan negara sejengkal itu. Woi, sadar pak, bu, tante, om kalau Indonesia juga bisa kok, kamu aja yang terlalu gensi dengan label Indonesia.

 

PENYEBABNYA

Promosi lemah

Katanya nieh, Indonesia dilarang promosi industri kesehatan di negeri Singapura tapi Singapura dengan santainya berkampanye di negeri ini. Aneh khan? Hospital and Clinical Act Promotian adalah alasan mutlak untuk melarang negara asing mengiklankan layanan kesehatannya. Dan kebijakan ini belum berlaku di Indonesia, kasihan yah!

AKIBATNYA

Devisa itu berlari meninggalkan Indonesia

Kalkulasi sederhanya jika tiap orang mengeluarkan duit sekitar 20 juta per orang untuk berobat di luar negeri. Maka 2 juta jiwa x 20 juta rupiah = 40 triliun. Hummm, nominal yang besar, bahkan dua kali lipat dari anggaran kesehatan negeri ini. Jadi gagap deh untuk berkata bahwa negara ini terlalu miskin untuk sektor kesehatan.

 

MAKANYA!!!

PAKAI OTAK DONK!!!

salam sehat

Read Full Post »

Older Posts »