Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Pharmacy’ Category

Mbak, yang obat generiknya ada?” Inilah kalimat yang tidak lupa saya tanyakan jika berkunjung ke sebuah apotik. Percayalah, jika Anda tidak mencoba bertanya akan keberadaan obat generik, maka pihak apotik tidak akan pernah menawarkannya kepada Anda. Ataukah Anda masih termasuk orang yang berpikiran kolotyang mahal pasti lebih baik“. Ataukah Anda memang orang yang buta akan keberadaan obat generik?

Woi, engkau berada di zaman apa? Udah kenal khan apa itu obat generik. Obat jenis ini adalah obat yang telah mendapatkan “subsidi” sehingga harganya jauh lebih murah dari obat biasa (obat paten). Obat generik adalah obat yang meng-copy obat originator dan diberi nama generik.  Dengan begitu, obat ini memberikan efikasi, khasiat dan keamanan yang sama. Tapi kok obat paten mahal banget sih? Yaiyalah, obat paten menjadi mahal karena membutuhkan biaya penelitian  (untuk biaya risetnya aja mencapai 900 juta – 1,8 milayar dolar amerika), penembangan, dan promosi.

Ada salah kaprah di masyarakat kita yang menganggap semua obat yang bermerek adalah obat paten. Choy, 70 persen obat di pasaran adalah obat generik bermerek. Ingat, ketika obat tersebut telah “bermerek” maka harganya-pun akan lebih mahal. Tambahan pula, obat paten yang beredar di masyarakat sebenarnya hanya sekitar 7%. Nah,,, Ini dia ciri Indonesia, selalu mengambil kesemapatan dalam kesempitan. Obat generik yang bermerek inilah yang membuat sebagian masyarakat kita “terbodohi“. Mungkin juga ini adalah bukti lepas tangan pemerintah terhadap kontrol obat. Harusnya obat generik bermerek ini juga tidak memiliki perbedaan harga bagai langit dan bumi, wong sama-sama generik kok.

Yah cukup disitu aja deh, pembahasan wacana benang kusut bisnis obat. Kembali ke diri masing-masing, apakah Anda peduli atau tidak. Nieh, ada beberapa tip dari saya:

  1. Pastikan obat yang tertera dalam resep dokter adalah obat generik, hal ini telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 68 tahun 2010
  2. Selalu tanya “obat generiknya ada?” ketika Anda membeli obat di apotik, jika tidak pake strategi yang k-3.
  3. Atau tanyakan “obat mana yah, yang lebih murah dengan kandungan kimia yang sama?”. Baiasanya sih penjaga apotik selalu memberi jawaban yang memuaskan 🙂 (mungkin takut kale disebut tong kosong, hehe)

Okey…

Salam sehat dari Chevi Chenko

Read Full Post »

Obat-obat tradisional terus merambah sayapnya di masyarakat. Pasti Anda sering mendengar, membaca, melihat, dan mungkin pernah mencoba berbagai obat tradisional. Obat tradisional biasanya merupakan obat yang diwariskan turun-temurun dari nenek moyang. Bahan-bahan obat tradisional adalah berasal dari alam dan disajikan dalam bentuk sederhana.

Dengan perkembangan tekhnologi apakah obat tradisional telah dilupakan? Tidak, justru kini perkembangannya telah berevolusi, tak jarang obat tradisional telah berbentuk tablet, kapsul, sirup, dan lain-lain. Kini dengan muncul era idustrialiasasi, perkembangan obat tradisi yang semula hanya sebagai resep keluarga, kini obat tradisional mencapai skala global yang luas.

Amankah produk tradisional ini? Belum tentu, bahkan diragukan. Contohnya, salah satu obat kencing manis merek X, uji lab secara positif hanya mengandung fenfluramin hidroklorid padahal kandungan ini hanya berguna untuk menurunkan tekanan darah. Kasus seperti ini banyak jumlahnya berdasarkan temuan Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia.

Yuk, kita lihat kasus lain. Selama ini ekstrak teh hijau dianggap sangat berkhasiat. Namun konsumsi yang berlebihan justru bisa menyebabkan kematian sel hati (hasil penelitian Universitas Indonesia). Hummm, bahaya juga yah, selain bahaya ternyata banyak khasiat ramuan tradisional yang tidak mujarab sama sekali. Banyak lho buktinya, sangat banyak untuk dituliskan lewat blog ini.

Kepercayaan yang berbahaya dalam masyarakat kita bahwa obat tradisional relatif aman.  Masyarakat lebih percaya bahwa obat tradisional tidak berbahaya jika melebihi dosis (malahan banyakan obat tradisional tidak memiliki dosis). Ketidakpastian dan ketiadaan jaminan setelah mengonsumsi obat tradisional menjadi ancaman dalam masyarakat pengagum “tradisional”.

Sudah saatnya mereka yang berwenang (pemerintah – red) peduli akan hal ini. Kita telah memiliki Undang-Undang Perlindungan Konsumen, Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Direktorat Perlindungan Konsumen, serta Pak Polisi untuk bertindak. Basmi habis obat tradisional yang menipu masyarakat. Dan saatnya masyarakat sadar akan apa yang dikonsumsi.

Stop trial and error terhadap obat yang belum terbukti khasiatnya. Kita bukanlah kelinci atau tikus percobaan. Nyawa Anda lebih berharga.

Salam sehat dari Chevi Chenko

Read Full Post »

Tahun 2010 selangkah lagi meninggalkan kita. Tahun 2010 merupakan bagian dari alur untuk menuju masa lebih baik, salah satunya adalah sektor kesehatan. Menuju tahun 2011, permasalahan dan tantangan kesehatan masih terus hadir. Diperlukan kerja keras dan kerja cerdas untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan tujuan Negara. Tulisan kali ini akan mencoba mereview tantangan pada tahun 2010 yang akan terus menjadi PR pada tahun 2011.

Pertama, kesenjangan status merupakan tantangan utama yang dihadapi pemerintah. Adanya perbedaan mencolok antar daerah kaya dan daerah miskin (provinsi atau kabupaten/kota). Selain itu perbedaan status kesehatan antara si kaya dan si miskin merupakan kesenjangan antar tingkatan sosial-ekonomi. Adanya dikotonomi Indonesia Barat dan Indonesia Timur merupakan kesenjangan antar kawasan. Serta disparitas antara perkotaan dan pedesaan masih tinggi adalah tantangan yang menunujukan bahwa isi kesenjangan kesehatan belum teratasi.

Kedua, masih rendahnya status kesehatan penduduk miskin. Label “miskin” adalah bagian masyarakat yang paling rentan terhadap ancaman kesehatan. Persediaan air bersih dan makan bergizi, pendidikan yang rendah, lingkungan yang jorok merupakan contoh diantara sekian banyak masalah yang dihadapi penduduk miskin. Walaupun pemerintah telah bereksperimen melalui program jamkesmas namun belum sepenuhnya berhasil jika tidak difondasi pengetahuan dan kesadaran pola hidup sehat.

Ketiga, adanya beban ganda penyakit. Double burden melanda hampir seluruh negara berkembang. Kita dihadapkan dengan dua jenis tren-penyakit. Di salah satu sisi kita masih berjibaku dengan penyakit “usang” seperti tetanus, rabies, polio, malaria. Dilain sisi kita berhadapan dengan tren penyakit “dunia modern” yaitu penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, diabetes dan osteoporosis. Namun, jangan lupa bahwa kita menuju kearah triple burden dimana kita sedang bertarung berbagai jenis penyakit baru seperti SARS, H5N1 dan sebagainya. Ancaman pandemi dengan varian virus yang barus terus membayangi umat manusia.

Keempat, tidak meratanya kualitas, kuantitas dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. Tidak meratanya ketiga hal ini merupakan realita lapangan yang tidak bisa disembunyikan. Ketidak-merataan tiga hal ini menyebabkan timbulnya masalah yang diungkapkan pada poin pertama, yaitu kesenjangan status kesehatan.

Kelima, perilaku masyarakat yang belum mendukung. Kebiasaan merokok adalah permasalah yang sangat menonjol di bangsa pengagum tembakau ini. Satu dari empat orang penduduk Indonesia adalah perokok. Makanya merupakan kebanggaan bahwa bangsa ini menduduki posisi 3 sebagai negera penelan asap. Perilaku lain seperti membuang sampah sembarangan juga merupakan kebiasaan penduduk bangsa ini. Dan masih banyak lagi kebiasaan buruk yang tidak menunjang kenaikan status kesehatan. Semua ini diperlukan promosi dan pendidikan kesehatan secara berkelanjutan.

Keenam, pembiayaan kesehatan yang belum memadai. Anggaran kesehatan yang masih berada di posisi 2,3 dari total APBN merupakan salah satu faktor lemahnya sektor kesehatan negeri ini. Saran WHO untuk meningkatan angka penggaran kesehatan hingga posisi 5% dari APBN selalu dianggap angin lalu.

Ketujuh, kuantitas, kualitas, distribusi serta pendayagunaan SDM Kesehatan. Buruknya sistem dan regulasi ketenaga kerjaan khususnya di sektor kesehatan merupakan bagian yang menyumbang lemah status kesehatan negeri ini. Fokus pemerintah yang selama ini untuk tenaga medis, tidak dibarengi dengan menguatnya tenaga penyuluh dan promosi kesehatan. Padahal tenaga kesehatan preventif adalah ujung tombak menuju Indonesia sehat.

Tujuh problem ini akan terus menjadi PR di tahun 2011. Eits… Apakah Anda percaya bahwa program pemerintah Indonesia Sehat 2010 telah tercapai dengan sukses? Terserah Anda menilainya, dengan tolak ukur apa, dan dengan kaca-mata apa Anda melihatnya. Saatnya kita bersiap-siap menghadapi tantangan untuk masa 2010.

Salam sehat..
by Chevi Chenko

Read Full Post »

UU No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen telah menguraikan apa yang menjadi hak-hak seorang pasien, antara lain:

  1. Hak untuk informasi yang benar, jelas dan jujur.
  2. Hak untuk jaminan kemanan dan keselamatan.
  3. Hak untuk ganti rugi.
  4. Hak untuk memilih.
  5. Hak untuk didengar.
  6. Hak untuk mendapatkan advokasi.
  7. Hak-hak yang diatur oleh perundang-undangan.

Tidak tanggung-tanggung, jika melanggar maka sanksi yang menanti pun cukup berat. Pelanggar UU tersebut dapat dikenai denda maksimal 2 milyar dan kurungan maksimal 5 tahun.

Coba simak tips untuk berobat ke dokter dari dr. Marius Widjajarta, SE :“Mintalah obat generik ketika berobat ke dokter dan ingatkan dokter bahwa jika dokter tidak memberikan informasi yang benar, jujur dan jelas maka dokter bisa melanggar UU No. 8 tahun 1999.”

Pasien memiliki hak untuk memilih pengobatan. DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes mengatakan bahwa pasien harus mengingatkan dokter untuk menuliskan resep obat generik.

Jadi tidak ada alasan terutama bagi konsumen yang berkantong tebal untuk ragu dan merasa ‘bersalah’ jika hendak memilih obat generik dengan alasan penghematan. Apalagi dalam kondisi bangsa saat ini yang sedang menderita kronis akibat permasalahan hukum, politik, ekonomi, dan keamanan, di mana diperlukan kecerdasan seorang konsumen dalam memilih pengobatan.

sumber : medicastore

Read Full Post »

Setiap negara wajib menyusun daftar obat esensial (DOEN), sejumlah jenis obat yang paling dibutuhkan di suatu negara, dan yang tergolong sering dipakai. Daftar ini dapat ditambah atau dikurangi oleh pemerintah sesuai kebutuhan negara.

Semakin bijak keputusan menyusun DOEN, semakin diuntungkan pihak konsumen. Lebih bijak kalau jumlah jenis obat yang dinilai layak tidak semakin banyak. Semakin sedikit jenis obat DOEN, semakin rasional obat yang bakal digunakan dalam praktik keseharian.

Namun, yang terjadi sekarang, dan itu sudah lama berlangsung, DOEN kita cenderung tambun. Obat bermerk dan jenis yang sama pun terus bertambah, sehingga membuat bingung dokter saat menulis resep. Kalau ada seratus jenis obat esensial, dan masing-masing jenis obat diproduksi oleh sepuluh merk obat, berapa ribu merk obat yang harus dokter ingat.

Bayangkan kalau untuk obat batuk yang sama tersedia puluhan merek. Duplikasi obat begini yang membuat persaingan harga obat semakin kurang sehat. Siapa merk obat yang berani lebih genit mempengaruhi dokter dan menulis resep, merk itu yang berpotensi menguasai pasar.

“Beda harga obat bermerk dengan obat generik sekitar 40 kali, 80 kali bahkan ada yang sampai 200 kali lipat,” ungkap dr. Marius Widjajarta, SE. Perusahaan farmasi mengklaim bahwa keuntungan tersebut untuk komisi dokter meresepkan obat bermerk. Hal inilah yang menjadi kendala terbesar mandeknya obat generik di Indonesia.

dr. Marius Widjajarta, SE menambahkan bahwa di luar negeri, harga maksimal obat bermerk diatur hanya 1,2-2 kali harga obat generik. Tidak mengherankan jika kemudian peredaran obat palsu subur di Indonesia.

Sebenarnya sejak tahun 2006 kemarin, Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi) telah mengeluarkan Surat Edaran No. 100/SK/GPFI/2006 tanggal 1 September 2006 yang berisi himbauan kepada perusahaan farmasi untuk menurunkan harga obat bermerk sehingga harganya berkisar 3 kali lipat harga obat generik.

Harga obat generik bermerek (obat bermerk) yang diturunkan meliputi 34 item obat esensial bermerek yang mencakup lebih kurang 1.400 sediaan yang diproduksi berbagai perusahaan farmasi swasta yang merupakan anggota GP Farmasi kecuali Perusahaan Modal Asing (PMA).

Beda dengan Indonesia, pangsa pasar obat generik di negara maju seperti Amerika telah mencapai 40-45%. Di negara maju telah menganut sistem klaim asuransi kesehatan, sedangkan Indonesia masih menganut auto pocket dimana kalau sakit baru bayar biaya pengobatan.

Pada obat bermerek dagang memang dilakukan pemillihan bahan pembantu (bahan tambahan yang digunakan untuk membentuk produk obat selain zat aktif) yang spesial dan kemasan produk yang menawan yang menjadikannya terasa istimewa.

Sedangkan pada obat generik dilakukan penekanan biaya produksi untuk penurunan harga produk. Akan tetapi berkat adanya studi BA dan atau BE, obat generik akan memberikan jaminan keamanan dan khasiat pengobatan walaupun kemungkinan adanya perbedaan sifat fisiko kimia zat aktif yang digunakan (bentuk kristal dan ukuran partikel) pada kedua produk obat tersebut.

sumber : medicastore

Read Full Post »

“Memang mungkin ada perbedaan kualitas antara obat generik dan obat bermerk karena pada obat generik tidak dilakukan uji BA/BE. Hal ini menimbulkan keraguan di kalangan dokter yang didukung pengalaman empiris meresepkan obat generik ternyata pasien tidak sembuh,” jelas DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes.

Seakan menjawab keraguan di masyarakat dan klinisi, BPOM akan mengeluarkan peraturan untuk obat generik pada bulan Agustus 2007 nanti. Dalam peraturan tersebut, BPOM akan mengumumkan obat resep (ethical) yang dikenakan wajib BA/BE. Uji tersebut akan menjadi prasyarat registrasi obat yang telah ditetapkan dalam Peraturan Kepala BPOM-RI.

Uji BA/BE diperlukan untuk menjaga keamanan dan mutu obat generik. Dengan demikian, masyarakat terutama klinisi mendapat jaminan obat yang sesuai dengan standar efikasi, keamanan dan mutu yang dibutuhkan. Selain itu, uji BA/BE disiapkan untuk menghadapai harmonisasi bidang farmasi ASEAN 2008 mendatang.

Studi BE memungkinkan untuk membandingkan profil pemaparan sistemik (darah) suatu obat yang memiliki bentuk sediaan yang berbeda-beda (tablet, kapsul, sirup, salep, suppositoria, dan sebagainya), dan diberikan melalui rute pemberian yang berbeda-beda (oral/mulut, rektal/dubur, transdermal/kulit).

Bioavailabilitas/ketersediaan hayati (BA) dapat didefinisikan sebagai rate(kecepatan zat aktif dari produk obat yang diserap di dalam tubuh ke sistem peredaran darah) dan extent (besarnya jumlah zat aktif dari produk obat yang dapat masuk ke sistem peredaran darah), sehingga zat aktif/obat tersedia pada tempat kerjanya untuk menimbulkan efek terapi/penyembuhan yang diinginkan.

Bioekivalensi/kesetaraan biologi (BE) dapat didefinisikan menjadi tidak adanya perbedaan secara bermakna pada rate dan extent zat aktif dari dua produk obat yang memiliki kesetaraan farmasetik, misalnya antara tablet A yang merupakan produk obat uji dan tablet B yang merupakan produk inovator, sehingga menjadi tersedia pada tempat kerja obat ketika keduanya diberikan dalam dosis zat aktif yang sama dan dalam desain studi yang tepat.

DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes menambahkan bahwa dokter bisa percaya dan berani meresepkan obat generik asalkan ada uji BA/BE yang hasilnya bagus dan dipublikasikan.

sumber : medicastore

Read Full Post »

Orang sering mengira bahwa mutu obat generik kurang dibandingkan obat bermerk. Harganya yang terbilang murah membuat masyarakat tidak percaya bahwa obat generik sama berkualitasnya dengan obat bermerk.

Padahal generik atau zat berkhasiat yang dikandung obat generik sama dengan obat bermerk. “Orang kan makan generiknya bukan merknya, karena yang menyembuhkan generiknya,” ungkap dr. Marius Widjajarta, SE.

Kualitas obat generik yang disebut ´tidak genit tapi menarik´ oleh dr. Marius ini tidak kalah dengan obat bermerk karena dalam memproduksinya perusahaan farmasi bersangkutan harus melengkapi persyaratan ketat dalam Cara-cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Selain itu juga ada persyaratan untuk obat yang disebut ujiBioavailabilitas/Bioekivalensi (BA/BE). Obat generik dan obat bermerk yang diregistrasikan ke BPOM harus menunjukkan kesetaraan biologi (BE) dengan obat pembanding inovator.

Inovator yang dimaksud adalah obat yang pertama kali dikembangkan dan berhasil muncul di pasaran dengan melalui serangkaian pengujian, termasuk pengujian BA.

Studi BA dan atau BE seharusnya telah dilakukan terhadap semua produk obat yang berada di pasaran baik obat bermerk maupun obat generik. “Namun, pemerintah dalam hal ini BPOM masih fokus pada pelaksanaan CPOB,” ungkap DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes.

sumber : medicasote

Read Full Post »

Older Posts »