Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘MDGs’ Category

Malaysia…

Yah, dia itu, tetangga kita yang sering kita ajak bercanda, berargumen, berkelahi, dan bertengkar.

Mengenal Malaysia sebagai negeri pembajak (maaf, harusnya ini disensor) tidak serta merta membuat negeri ini kurang inovasi untuk terus bergerak maju. Malahan aku acungi jempol deh buat tetanggaku ini. Harusnya kita banyak belajar dari keunggulan negeri ini, nah itulah gunanya kita saling mengenal (mengenal sebagai entah sebagai kawan maupun lawan, hehe).

Kesuksesan Malaysia kali ini adalah inovasinya merubah gen nyamuk agar memiliki masa hidup lebih pendek. Dengan harapan aktor utama si nyamuk cepat “wafat” dalam siklus demam berdarah. Wah, kreatif yah! (Pertanyaannya: Apakah ini juga hasil copy-paste penelitian Indonesia? :D)

Walau awalnya penelitian ini ditentang oleh berbagai pihak, karena melepaskan 6 ribu ekor nyamuk hasil mutasi ini dikhwatirkan menimbulkan efek yang lebih besar (entahlah).

Apakah Anda senada dengan sahabat saya yang berkomentar:

“Kehancuran dmuka bumi ini adalah akibat manusia sendiri, karena manusia merasa dia lebih hebat dari tuhan dengan merubah gen struktur dan siklus hidupnya pun berubah…”

Dari sudut pandang saya, itulah karunia terbesar manusia untuk mampu memodifikasi alam. Disitulah gunanya belajar… dan belajar… Langkah Anda hari ini harus lebih baik dari hari kemari. So, jangan kalah dari Malaysia, ayo berinovasi. (info jelasnya di VOA)

Salam perjuangan…

Read Full Post »

Dari 200 negara di seluruh dunia, 1 milyar perokok adalah perempuan.

Dari segi perbandingan, jumlah perokok pria hanya unggul 9% atas perokok perempuan. Berbagai studi menunjukan bahwa kecenderungan peningkatan angka perokok berasal dari perempuan.

 

 

Hampir dalam jumlah yang sama antara perokok remaja putri dan remaja putra

Sebuah survei WHO, jumlah perokok remaja dari 151 negara, menunjukan bahwa jumlah perokok remaja putra dan remaja putri relatif sama banyak.

 

 

Remaja putri dan remaja putra memiliki alasan yang berbeda untuk start merokok

Remaja putri mulai merokok dengan kepercayaan bodoh bahwa merokok dapat menurunkan berat badan. Remaja pria mulai merokok karena tuntutan komunitas tanpa menyadari akan dampak yang ditimbulkan.

 

Setiap tahunnya 1,5 juta perokok wanita meninggal

Dari 5 juta perokok yang meninggal tiap tahunnya, 1,5 juta jiwa adalah wanita dimana 75%nya berasal dari negara miskin/berkembang.

 

 

Sadari bahwa wanita adalah target utama dari industri rokok

Dengan konsep “beauty, prestige and freedom“, perusahaan rokok memburu para remaja putri sebagai target utama.

 

 

 

Kode “light” adalah kesalapahaman kaum hawa

Metode pabrik rokok untuk menarik daya pikat kaum hawa adalah dengan kode “light” atau “low tar” (pria:wanita = 63:46). Kenyataannya penggunaan rokok dengan logo light lebih banyak menghisap nikotin karena merasa nyaman dalam tiap tarikan napasnya.

 

 

Bahaya rokok antara wanita dan pria sesungguhnya beda dimensi

Anugerah terindah dari wanita adalah melahirkan manusia baru. Namun apa yang terjadi jika bayi mulai dibunuh sejak dalam kandungan, kanker rahim, serta  may cause a reduction in breast milk.

 

 

Kejatahan terhadap wanita disebabkan oleh rokok

Korban second-hand smoke (perokok pasif) adalah sebanyak 430.000 tiap tahunnya. 64 persen dari jumlah ini adalah wanita. Lemahnya hukum perlindungan non-perokok adalah penyebab utamanya.

 

 

Mereka harusnya peduli!

MEREKA TIDAK MELINDUNGI ISTRI DAN ANAK-ANAK MEREKA SENDIRI. Bagaimana melindungi orang lain… Dimana moral Anda?

 

 

 

Wanita bisa menjadin garda terdepan

Dengan isu “maternal, child and reproductive health services” wanita bisa menjadi garda terdepan dalam perang melawan industri rokok.

(sumber: WHO)

 

Fakta ini harusnya membuka mata hati kita, gerakan AKU SAYANG DAN PEDULI bisa menjadi langkah bijak. Saran dan kritik dari Anda kami tunggu. Salam sehat…

Read Full Post »

Selama ini biaya persalinan dianggap “lumayan” memberatkan bagi masyarakat kita yang notabene di bawah garis merah. Ternyata harapan untuk mendapatkan biaya persalinan gratis akan segera terwujud. Bulan Maret 2010 rencana program pemerintah untuk memberikan cuma-cuma pelayanan kesehatan untuk ibu hamil ini akan segera terealisasi. Alhamdulillah, ini adalah langkah maju pemerintah untuk mengurangi rasa malu terhadap dunia. Selama ini, Indonesia “digosipkan” sebagai negara penyumbang kematian ibu tersebar se Asia.

Angka kematian ibu untuk Indonesia berada pada posisi 228/100.000 penduduk (ini mah data lama). Pada tahun 2009, tamparan nyata muncul ketika secara bersamaaan Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Pasifik (UNESCAP), Program Pembangunan PBB (UNDP), UNFPA, dan WHO menyatakan, kenaikan Angka Kematian Ibu (AKI) telah berada pada posisi 420/100.000 penduduk. Humm, ambil sisi positifnya aja deh bahwa data ini meyakinkan kita bahwa jumlah penduduk yang disubsidi negara ini makin berkurang, hehe.

Syukurlah kalau pemerintah kita masih memiliki rasa malu. Mungkin dengan dana sebesar Rp 1,45 triliun menunjukan keseriusan pemerintah terhadap buruknya pelayanan kesehatan dalam proses produksi aset negara (percayalah bahwa penduduk yang besar akan menjadi aset yang sangat bernilai, namun teori dua sisi mata koin tetap berlaku pada kasus ini). Target MDGs 2015 yang menjadi cita-cita Kementrian Kesehatan untuk menekan anggka kematian ibu hingga pada posisi 110/100.000 penduduk bisa terwujud, amin.

Lantas siapakah yang berhak mendapatkan layanan gratis ini? Yang jelas pria tidak mendapatkan layanan ini, haha. Layanan ini menjadi hak bagi seluruh kaum ibu yang hendak melahirkan, entah dia kaya, miskin, buta huruf, berpendidikan, cantik, jelek (hehe, menurut aku sih semua ibu itu cantik :D), pokoknya semua deh. Makanya jangan sia-siakan kesempatan ini, apalagi program tersebut sudah termasuk di antaranya paket kontrol hamil empat kali, persalinan sendiri, ASI eksklusif, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), kontrol pada waktu nifas, dan KB. Wah, mantap khan program pemerintah yang satu ini.

Dimana kita bisa mendapatkannya? Layanan ini bisa didapatkan di seluruh puskesmas, poliklinik desa, atau  kamar kelas III Rumah Sakit Umum di seluruh Indonesia. Ingat… proses persalinan pada dukun tidak disubsidi dengan program ini. Yang bisa jadi kendala adalah daerah terpencil yang tidak memiliki sarana penunjang di atas. Semoga pola pembangunan kesehatan menuju ke arah yang berkesinambungan untuk menjangkau seluruh wilayah NKRI, amin.

So, buruan produksi anak sekarang sebab masuk tahun 2012, layanan gratis ini dibatasi untuk anak pertama dan kedua saja, hehe. Nieh, ada pesan dari Ibu MenKes “Jangan mentang-mentang persalinan ditanggung pemerintah lalu punya anak banyak, lima atau enam anak…“. Kayaknya Dewi Kesehatan negeri ini, masih tetap teguh dengan kampanye dua anak cukup.

Salam sehat dari Chevi Chenko

Read Full Post »

Tahun 2010 selangkah lagi meninggalkan kita. Tahun 2010 merupakan bagian dari alur untuk menuju masa lebih baik, salah satunya adalah sektor kesehatan. Menuju tahun 2011, permasalahan dan tantangan kesehatan masih terus hadir. Diperlukan kerja keras dan kerja cerdas untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan tujuan Negara. Tulisan kali ini akan mencoba mereview tantangan pada tahun 2010 yang akan terus menjadi PR pada tahun 2011.

Pertama, kesenjangan status merupakan tantangan utama yang dihadapi pemerintah. Adanya perbedaan mencolok antar daerah kaya dan daerah miskin (provinsi atau kabupaten/kota). Selain itu perbedaan status kesehatan antara si kaya dan si miskin merupakan kesenjangan antar tingkatan sosial-ekonomi. Adanya dikotonomi Indonesia Barat dan Indonesia Timur merupakan kesenjangan antar kawasan. Serta disparitas antara perkotaan dan pedesaan masih tinggi adalah tantangan yang menunujukan bahwa isi kesenjangan kesehatan belum teratasi.

Kedua, masih rendahnya status kesehatan penduduk miskin. Label “miskin” adalah bagian masyarakat yang paling rentan terhadap ancaman kesehatan. Persediaan air bersih dan makan bergizi, pendidikan yang rendah, lingkungan yang jorok merupakan contoh diantara sekian banyak masalah yang dihadapi penduduk miskin. Walaupun pemerintah telah bereksperimen melalui program jamkesmas namun belum sepenuhnya berhasil jika tidak difondasi pengetahuan dan kesadaran pola hidup sehat.

Ketiga, adanya beban ganda penyakit. Double burden melanda hampir seluruh negara berkembang. Kita dihadapkan dengan dua jenis tren-penyakit. Di salah satu sisi kita masih berjibaku dengan penyakit “usang” seperti tetanus, rabies, polio, malaria. Dilain sisi kita berhadapan dengan tren penyakit “dunia modern” yaitu penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, diabetes dan osteoporosis. Namun, jangan lupa bahwa kita menuju kearah triple burden dimana kita sedang bertarung berbagai jenis penyakit baru seperti SARS, H5N1 dan sebagainya. Ancaman pandemi dengan varian virus yang barus terus membayangi umat manusia.

Keempat, tidak meratanya kualitas, kuantitas dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. Tidak meratanya ketiga hal ini merupakan realita lapangan yang tidak bisa disembunyikan. Ketidak-merataan tiga hal ini menyebabkan timbulnya masalah yang diungkapkan pada poin pertama, yaitu kesenjangan status kesehatan.

Kelima, perilaku masyarakat yang belum mendukung. Kebiasaan merokok adalah permasalah yang sangat menonjol di bangsa pengagum tembakau ini. Satu dari empat orang penduduk Indonesia adalah perokok. Makanya merupakan kebanggaan bahwa bangsa ini menduduki posisi 3 sebagai negera penelan asap. Perilaku lain seperti membuang sampah sembarangan juga merupakan kebiasaan penduduk bangsa ini. Dan masih banyak lagi kebiasaan buruk yang tidak menunjang kenaikan status kesehatan. Semua ini diperlukan promosi dan pendidikan kesehatan secara berkelanjutan.

Keenam, pembiayaan kesehatan yang belum memadai. Anggaran kesehatan yang masih berada di posisi 2,3 dari total APBN merupakan salah satu faktor lemahnya sektor kesehatan negeri ini. Saran WHO untuk meningkatan angka penggaran kesehatan hingga posisi 5% dari APBN selalu dianggap angin lalu.

Ketujuh, kuantitas, kualitas, distribusi serta pendayagunaan SDM Kesehatan. Buruknya sistem dan regulasi ketenaga kerjaan khususnya di sektor kesehatan merupakan bagian yang menyumbang lemah status kesehatan negeri ini. Fokus pemerintah yang selama ini untuk tenaga medis, tidak dibarengi dengan menguatnya tenaga penyuluh dan promosi kesehatan. Padahal tenaga kesehatan preventif adalah ujung tombak menuju Indonesia sehat.

Tujuh problem ini akan terus menjadi PR di tahun 2011. Eits… Apakah Anda percaya bahwa program pemerintah Indonesia Sehat 2010 telah tercapai dengan sukses? Terserah Anda menilainya, dengan tolak ukur apa, dan dengan kaca-mata apa Anda melihatnya. Saatnya kita bersiap-siap menghadapi tantangan untuk masa 2010.

Salam sehat..
by Chevi Chenko

Read Full Post »

Nyala semangat hari ibu. Tanggal 22 Desember selalu diperingati sebagai hari ibu. Untuk hari ayah di sangkar garuda ini belum ada choy, hehe (di seberang sana dikenal adanya Mother’s Day dan Father’s Day). Memang sudah sepantasnya seorang ibu kita hormati, haragai, dan sayangi. Ibu… walau hanya lewat blog yang amburadul ini aku ingin berteriak “I LOVE YOU MOM”. Kalian juga yang sedang membaca blog ini jangan diam aja, luangkanlah waktu dulu sejenak untuk mengingat ibumu.

Lanjut, aku pernah membaca tulisan bahwa sebenarnya manusia adalah mahluk homo festifal. Sama halnya dengan hari ibu yang ditetapkan pada tanggal 22 Desember, merupakan bagian dari sebuah “festifal”. Sungguh disayangkan jika sebuah hari spesial hanya dijadikan sebagai ajang berbagi kembang. Sejujurnya masih ada hal yang harus diperhatikan oleh semua warga Indonesia (selama ini selalu dianggap enteng). Melalui moment Hari Ibu ini coba kita melihat data Badan Pusat Statistik Indonesia yang menyatakan angka kematian ibu di Indonesia sebesar 307 per 100.000 kelahiran atau sekitar 13.77 kematian setiap dua jam. Sungguh miris, angka ini 65 kali kematian ibu di Singapura, 9,5 kali dari Malaysia. Bahkan 2,5 kali lipat dari indeks Filipina. Rekor yang luar biasa, menempatkan Indonesia pada posisi puncak pada besarnya anggka kematian ibu di Asia.

Masalah kompleks kadang-kadang bisa diselesaikan dengan cara yang sederhana. Untuk kesehatan ibu Indonesia harus banyak belajar dari Vietnam. Kesuksesan Vietnam dalam upaya mengurangi angka kematian ibu menjadi headline situs WHO (www.who.int), secara signifikan Vietnam menyediakan suplemen (besi dan folic acid) secara mingguan. Kegiatan ini merupakan upaya untuk mencapai tuajuan dari MDG 5, yaitu upaya untuk mengurangi rasio kematian ibu sebesar 3/4.

Di negara berkembang seperti Vietnam, anak-anak dan ibu muda selalu rentan degan defisiensi zat besi dan folat, padahal kekurangan keduanya dapat menyebabkan rentan terhadapa anemia dan meningkatkan angka resiko akan kematian. Sebagai tambahan, konsekuensi negatif dari berkurangnya zat besi adalah anemia, perkembangan fisik anak, dan produktivitas pada remaja adalah masalah yang selalu menjadi perhatian pemerintah (seharusnya).

Solusi sederhana adalah menyediakan sumplemen zat besi dan folic secara reguler untuk wanita selama hamil. Intervesi semacam ini adalah langkah efektif mengingat kebanyakan negara berkembang, masyarakat sangat susah untuk memenuhi kebutuhan itu. Vietnam adalah negara pertama di Regional ASEAN yang mengimplementasikan “anemia prevention programme in women reproductive age“.

Masalah tidak selamanya diselesaikan dengan cara yang rumit, langkah sederhana bisa saja menjadi jawaban untuk sebuah masalah. Intinya adalah keseriusan pemerintah. Gud luck Indonesiaku, garuda di dadaku.

Salam hormat buat seluruh ibu di muka bumi…

Read Full Post »

MDG Goal 8

A. Introduction

 

The Millennium Goals represent a global partnership for development. The deal makes clear that it is the primary responsibility of poor countries to work towards achieving the first seven Goals. They must do their part to ensure greater accountability to citizens and efficient use of resources. But for poor countries to achieve the first seven Goals, it is absolutely critical that rich countries deliver on their end of the bargain with more and more effective aid, more sustainable debt relief and fairer trade rules, well in advance of 2015.

B. The Targets

Target 8a: Develop further an open, rule-based, predictable, non-discriminatory trading and financial system

Includes a commitment to good governance, development and poverty reduction – both nationally and internationally

Target 8b: Address the special needs of the least developed countries

Includes: tariff and quota free access for the least developed countries’ exports; enhanced programme of debt relief for heavily indebted poor countries (HIPC) and cancellation of official bilateral debt; and more generous ODA for countries committed to poverty reduction

Target 8c: Address the special needs of landlocked developing countries and small island developing States (through the Programme of Action for the Sustainable Development of Small Island Developing States and the outcome of the twenty-second special session of the General Assembly)

Target 8d: Deal comprehensively with the debt problems of developing countries through national and international measures in order to make debt sustainable in the long term

Some of the indicators listed below are monitored separately for the least developed countries (LDCs), Africa, landlocked developing countries and small island developing States.

Official development assistance (ODA)

  • Net ODA, total and to the least developed countries, as percentage of OECD/DAC donors’ gross national income
  • Proportion of total bilateral, sector-allocable ODA of OECD/DAC donors to basic social services (basic education, primary health care, nutrition, safe water and sanitation)
  • Proportion of bilateral official development assistance of OECD/DAC donors that is untied
  • ODA received in landlocked developing countries as a proportion of their gross national incomes
  • ODA received in small island developing States as a proportion of their gross national incomes

Market access

  • Proportion of total developed country imports (by value and excluding arms) from developing countries and least developed countries, admitted free of duty
  • Average tariffs imposed by developed countries on agricultural products and textiles and clothing from developing countries
  • Agricultural support estimate for OECD countries as a percentage of their gross domestic product
  • Proportion of ODA provided to help build trade capacity

Debt sustainability

  • Total number of countries that have reached their HIPC decision points and number that have reached their HIPC completion points (cumulative)
  • Debt relief committed under HIPC and MDRI Initiatives
  • Debt service as a percentage of exports of goods and services

Target 8e: In cooperation with pharmaceutical companies, provide access to affordable essential drugs in developing countries

  • Proportion of population with access to affordable essential drugs on a sustainable basis

Target 8f: In cooperation with the private sector, make available the benefits of new technologies, especially information and communications

  • Telephone lines per 100 population
  • Cellular subscribers per 100 population
  • Internet users per 100 population

C. Did You Know?
  • The United Nations estimates that unfair trade rules deny poor countries $700 billion every year. Less than 0.01% of this could save the sight of 30 million people. (Source:ChristianAid)
  • In 1970, 22 of the world’s richest countries pledged to spend 0.7% of their national income on aid. 34 years later, only 5 countries have kept that promise. The UK hasn’t. (Source:Save The Children)
  • The poorest 49 countries make up 10% of the world’s population but account for only 0.4% of world trade. Their share has halved since 1980. (Source:ChristianAid)

 

Read Full Post »

MDG Goal 7

A. Introduction

    Reducing poverty and achieving sustained development must be done in conjunction with a healthy planet. The Millennium Goals recognize that environmental sustainability is part of global economic and social well-being. Unfortunately exploitation of natural resources such as forests, land, water, and fisheries-often by the powerful few-have caused alarming changes in our natural world in recent decades, often harming the most vulnerable people in the world who depend on natural resources for their livelihood.

     

    B. The Targets

      Target 7a: Integrate the principles of sustainable development into country policies and programmes; reverse loss of environmental resources

      Target 7b: Reduce biodiversity loss, achieving, by 2010, a significant reduction in the rate of loss

      • Proportion of land area covered by forest
      • CO2 emissions, total, per capita and per $1 GDP (PPP)
      • Consumption of ozone-depleting substances
      • Proportion of fish stocks within safe biological limits
      • Proportion of total water resources used
      • Proportion of terrestrial and marine areas protected
      • Proportion of species threatened with extinction

      Target 7c: Reduce by half the proportion of people without sustainable access to safe drinking water and basic sanitation

      • Proportion of population using an improved drinking water source
      • Proportion of population using an improved sanitation facility

      Target 7d: Achieve significant improvement in lives of at least 100 million slum dwellers, by 2020

      • Proportion of urban population living in slums

       

      C. Did You Know?

        • In our world today around 2.5 billion people do not have access to improved sanitation and some 1.2 billion people do not have access to an improved source of water. (Source:Why do the Millennium Development Goals matter? Brochure)

        Read Full Post »

        Older Posts »