Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘HIV-AIDS’ Category

Tahun 2010 selangkah lagi meninggalkan kita. Tahun 2010 merupakan bagian dari alur untuk menuju masa lebih baik, salah satunya adalah sektor kesehatan. Menuju tahun 2011, permasalahan dan tantangan kesehatan masih terus hadir. Diperlukan kerja keras dan kerja cerdas untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan tujuan Negara. Tulisan kali ini akan mencoba mereview tantangan pada tahun 2010 yang akan terus menjadi PR pada tahun 2011.

Pertama, kesenjangan status merupakan tantangan utama yang dihadapi pemerintah. Adanya perbedaan mencolok antar daerah kaya dan daerah miskin (provinsi atau kabupaten/kota). Selain itu perbedaan status kesehatan antara si kaya dan si miskin merupakan kesenjangan antar tingkatan sosial-ekonomi. Adanya dikotonomi Indonesia Barat dan Indonesia Timur merupakan kesenjangan antar kawasan. Serta disparitas antara perkotaan dan pedesaan masih tinggi adalah tantangan yang menunujukan bahwa isi kesenjangan kesehatan belum teratasi.

Kedua, masih rendahnya status kesehatan penduduk miskin. Label “miskin” adalah bagian masyarakat yang paling rentan terhadap ancaman kesehatan. Persediaan air bersih dan makan bergizi, pendidikan yang rendah, lingkungan yang jorok merupakan contoh diantara sekian banyak masalah yang dihadapi penduduk miskin. Walaupun pemerintah telah bereksperimen melalui program jamkesmas namun belum sepenuhnya berhasil jika tidak difondasi pengetahuan dan kesadaran pola hidup sehat.

Ketiga, adanya beban ganda penyakit. Double burden melanda hampir seluruh negara berkembang. Kita dihadapkan dengan dua jenis tren-penyakit. Di salah satu sisi kita masih berjibaku dengan penyakit “usang” seperti tetanus, rabies, polio, malaria. Dilain sisi kita berhadapan dengan tren penyakit “dunia modern” yaitu penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, diabetes dan osteoporosis. Namun, jangan lupa bahwa kita menuju kearah triple burden dimana kita sedang bertarung berbagai jenis penyakit baru seperti SARS, H5N1 dan sebagainya. Ancaman pandemi dengan varian virus yang barus terus membayangi umat manusia.

Keempat, tidak meratanya kualitas, kuantitas dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. Tidak meratanya ketiga hal ini merupakan realita lapangan yang tidak bisa disembunyikan. Ketidak-merataan tiga hal ini menyebabkan timbulnya masalah yang diungkapkan pada poin pertama, yaitu kesenjangan status kesehatan.

Kelima, perilaku masyarakat yang belum mendukung. Kebiasaan merokok adalah permasalah yang sangat menonjol di bangsa pengagum tembakau ini. Satu dari empat orang penduduk Indonesia adalah perokok. Makanya merupakan kebanggaan bahwa bangsa ini menduduki posisi 3 sebagai negera penelan asap. Perilaku lain seperti membuang sampah sembarangan juga merupakan kebiasaan penduduk bangsa ini. Dan masih banyak lagi kebiasaan buruk yang tidak menunjang kenaikan status kesehatan. Semua ini diperlukan promosi dan pendidikan kesehatan secara berkelanjutan.

Keenam, pembiayaan kesehatan yang belum memadai. Anggaran kesehatan yang masih berada di posisi 2,3 dari total APBN merupakan salah satu faktor lemahnya sektor kesehatan negeri ini. Saran WHO untuk meningkatan angka penggaran kesehatan hingga posisi 5% dari APBN selalu dianggap angin lalu.

Ketujuh, kuantitas, kualitas, distribusi serta pendayagunaan SDM Kesehatan. Buruknya sistem dan regulasi ketenaga kerjaan khususnya di sektor kesehatan merupakan bagian yang menyumbang lemah status kesehatan negeri ini. Fokus pemerintah yang selama ini untuk tenaga medis, tidak dibarengi dengan menguatnya tenaga penyuluh dan promosi kesehatan. Padahal tenaga kesehatan preventif adalah ujung tombak menuju Indonesia sehat.

Tujuh problem ini akan terus menjadi PR di tahun 2011. Eits… Apakah Anda percaya bahwa program pemerintah Indonesia Sehat 2010 telah tercapai dengan sukses? Terserah Anda menilainya, dengan tolak ukur apa, dan dengan kaca-mata apa Anda melihatnya. Saatnya kita bersiap-siap menghadapi tantangan untuk masa 2010.

Salam sehat..
by Chevi Chenko

Advertisements

Read Full Post »

A-I-D-S

The human immunodeficiency virus (HIV) is a retrovirus that infects cells of the immune system, destroying or impairing their function. As the infection progresses, the immune system becomes weaker, and the person becomes more susceptible to infections. The most advanced stage of HIV infection is acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). It can take 10-15 years for an HIV-infected person to develop AIDS; antiretroviral drugs can slow down the process even further.

HIV is transmitted through unprotected sexual intercourse (anal or vaginal), transfusion of contaminated blood, sharing of contaminated needles, and between a mother and her infant during pregnancy, childbirth and breastfeeding.

How to control:

Making universal access a reality
WHO HIV/AIDS Programme staff collaborate with other UN Agencies, Ministries of Health, development agencies, non-governmental organizations (NGOs), health services providers, health-care institutions, people living with HIV and other partners. The aim is to strengthen all aspects of the health sector in order to deliver much-needed HIV services. Working with six regional offices and 193 countries, WHO provides technical support and develops evidence-based norms and standards that will help transform the goal of universal access into a reality.

Five strategic directions
Recent estimates indicate that the health sector alone represents at least 55% of the resources required for the global response to HIV/AIDS. In order to better target much-needed interventions, the WHO HIV/AIDS Programme focuses on five strategic directions:

  • Enable people to know their HIV status;
  • Maximize the health sector’s contribution to HIV prevention;
  • Accelerate the scale-up of HIV treatment and care;
  • Strengthen and expand health systems;
  • Invest in strategic information to better inform the HIV response.

A public health approach
The WHO HIV/AIDS Programme promotes a public health approach to HIV prevention, treatment, care and support. This means working with countries to develop and implement simplified guidelines, to decentralize services, and to delegate tasks to less specialized health workers. In other words, the greatest good for the greatest number of people.

The WHO HIV/AIDS Department refers specifically to the unit dedicated to working with HIV/AIDS as opposed to the ‘Programme’ which refers to all WHO HIV-related work both at headquarters, regions and countries.

Source: WHO

Read Full Post »

SAY NO TO AIDS

Ingat: AIDS HANYA BISA DICEGAH

Read Full Post »

Epidemi HIV berkembang sangat pesat di seluruh dunia termasuk Indonesia. Kasus ini telah mengakibatkan kematian 25 juta orang dan saat ini telah terdapat lebih dari 33 juta orang yang hidup dengan HIV. Setiap hari terdapat 7.400 kasus baru HIV atau 5 orang per menit dan 96% di antaranya merupakan populasi di negara berkembang. Di Indonesia hampir tidak ada provinsi yang dinyatakan bebas dari HIV dan AIDS, bahkan diperkirakan saat ini HIV dan AIDS sudah terdapat di lebih dari separuh Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Berdasarkan data resmi dari Departemen Kesehatan RI, hingga akhir Juni 2009, secara kumulatif tercatat 17.699 kasus AIDS. Jumlah kasus yang sesungguhnya diperkirakan sebanyak 298.000 orang dengan HIV dan AIDS di seluruh Indonesia. Jika dilihat dari cara penularannya, mayoritas penularan melalui heteroseksual (48,8%), disusul penggunaan narkoba suntik (41,5%), dan homoseksual (3,3%). Sebagian besar kasus AIDS tersebut terdapat pada kelompok usia 20-29 tahun sebesar 50% dan kelompok umur 30-39 tahun sebesar 29,6%. Data tersebut menunjukkan bahwa ada suatu ancaman serius terhadap keberlangsungan generasi muda bangsa Indonesia ke depan.

Jika kasus HIV/AIDS tidak tertangani dengan baik, kemungkinan akan terjadi kepunahan generasi atau lost generation di dunia. Demikian ditegaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pembukaan Kongres AIDS Internasional se-Asia Pasifik ke-9 di Bali, Agustus 2009 lalu. Menurut Presiden, beberapa hal penting yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan penanggulangan HIV dan AIDS adalah: kepemimpinan, pentingnya keterlibatan masyarakat, pentingnya kerjasama regional dan internasional, serta investasi yang lebih besar dan berkelanjutan untuk menemukan vaksin dan pengobatan. Sebagai wujud komitmen serius pemerintah Indonesia dalam menanggulangi HIV dan AIDS, melalui Perpres 75 tahun 2006 Presiden mengaktifkan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional yang selanjutnya menyusun Rencana Aksi Nasional 2007 – 2010. Target yang ditetapkan rencana aksi tersebut mengacu kepada target universal (universal access) 2010 yaitu menjangkau 80% populasi yang paling beresiko (pekerja seks, pengguna narkoba suntik, pelanggan pekerja seks, waria, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki) dengan perubahan perilaku sebesar 60%.

Berbagai upaya penanggulangan dan pencegahan penyebaran HIV dan AIDS di Indonesia telah dilakukan, baik oleh sektor Departemen/Instansi/Lembaga Pemerintah, Swasta, LSM, Lembaga Donor, maupun oleh kelompok masyarakat peduli AIDS, sesuai dengan peran dan tugas pokok masing-masing. Namun demikian upaya-upaya tersebut masih perlu ditingkatkan baik kualitas, kuantitas, keterpaduan, maupun kebersamaannya. Oleh karena itu diharapkan kegiatan-kegiatan HAS tahun 2009 dilakukan oleh berbagai sektor terkait secara komprehensif, terpadu dan berkesinambungan.

Akses Universal dan Hak Asasi Manusia merupakan isu utama yang diangkat pada HAS tahun 2009. Akses universal tersebut mencakup berbagai aspek, baik akses informasi, pencegahan, maupun akses pengobatan. Pemaknaanya adalah bahwa semua warga dari berbagai latar belakang ekonomi, budaya, tempat tinggal harus mendapatkan akses informasi HIV dan AIDS yang sama, akses pencegahan yang sama, serta akses pengobatan yang sama.

Sumber : HAS2009

Read Full Post »