Oleh : Bambang Joko Susilo
Aku paling benci kepada orang suka memberi nasehat, “Jangan merokok!” akan tetapi dia sendiri ternyata tidak melaksanakan nasehat itu melainkan justru melanggarnya. Dan orang yang paling kubenci saat ini adalah Ayahku. Betapa tidak, sebab sambil berkata, “jangan merokok” itu, dia terus menghisap rokok seenaknya di depan hidungku.
Merokok itu, demikian kata Ayahku, selain dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, merusak paru-paru, mengakibatkan kerusakan janin, membuat lelaki menjadi impotent, juga dapat memperpendek umur. “Karena itu, jangan merokok!” katanya lagi. Celakanya, sambil berkata demikian itu, ayah terus saja menyedot rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya tanpa rasa berdosa sedikitpun di hadapanku. Nah, bagaimana mungkin orang bisa mempercayai kata-katanya?
Ayahku memang pintar. Di rumah dia tidak merokok karena takut kepada ibu. Ibuku adalah perempuan pembenci lelaki perokok. Bila melihat ada puntungan atau debu rokok berserakan di meja atau lantai, ibu bisa mencak-mencak dan marah besar. Bahkan ibu rela dicerai oleh ayah kalau ayah tidak menghentikan rokoknya.
Begitulah, sejak ibu marah-marah melihat ayah merokok dan mengancam minta cerai bila ayah tidak menghentikan merokoknya, ayah tak pernah lagi merokok. Tapi itu hanya kalau ia ada di rumah. Di luar itu, ayah tetap saja bisa menghabiskan dua atau tiga bungkus rokok tiap harinya. Dan ayah rupanya punya tempat dan waktu-waktu khusus bagaimana caranya supaya dia dapat merokok dengan bebas dan tenang tanpa takut diketahui ibu.
“Ayah melarang saya merokok, tapi ayah sendiri merokok seenaknya di kantor, di mobil, di kantin, di dalam WC, di warung kopi, dan di depan hidung saya!” protesku siang itu ketika mampir ke kantornya sepulang sekolah.
Saat itu ayahku dengan santainya merokok di ruang direkturnya sambil menyilangkan kakinya di atas meja.
“Ayah melarang kamu merokok, sebab kamu masih muda,” jawab ayah. Lalu, buussh… dihembuskannya asap rokok itu ke udara.
“Apa bedanya orang tua dan anak muda dalam hal merokok, ayah?” tanyaku kesal.
“Ooo, jelas ada bedanya, anak muda. Ayah sebentar lagi pensiun. Ayah sudah berbuat banyak untuk kehidupan. Karena itu, meskipun merokok itu memperpendek umur, ayah tidak takut mati karena memang sudah waktunya untuk mati. Barangkali saja Tuhan membuat jalan kematian ayah lewat rokok. Sedangkan kau? Engkau masih muda, anak muda. Harapanmu masih terbentang luas, sementara belum banyak yang kau perbuat untuk kehidupan. Ingat setiap kali engkau menghisap satu batang rokok, itu berarti sama dengan kau menancapkan satu paku pada peti jenazahmu. Sebuah penelitian mengatakan, sebatang rokok dapat memperpendek umur 12 menit. Nah, bila sehari seorang menghabiskan 10 batang rokok, berarti dalam sehari umurnya berkurang 2 jam. Bila dihitung sebulan, berarti berkurang 60 jam. Nah, berapa kalau setahun? Lalu berapa pula berkurangnya bila sehari menghabiskan dua atau tiga bungkus rokok? Apa kau mau mati muda seperti penyair Chairil Anwar itu, yang kerajingan merokok sehingga pada usia 27 tahun dia harus rela dijemput maut dengan paru-paru terbakar akibat kebanyakan merokok?” demikian ayah memberi keterangan.
“Tapi, ada juga orang yang hobi merokok, umurnya tetap panjang,” aku berkilah.
“Contohnya?” ayah bertanya. Lalu… buussh… kembali ia menghembuskan asap rokok dengan santainya.
“Contohnya kakek. Dia meninggal pada usia 99 tahun, padahal kakek setiap hari juga merokok.”
“Jangan samakan orang dulu dengan orang zaman sekarang, anak muda,” kata ayah.
“Apa bedanya, ayah?”
“Orang dulu panjang umur sebab hidupnya bersih, jujur, tidak korupsi, lingkungannya belum terpolusi. Sedangkan zaman sekarang?”
“Jadi, ayah ikut-ikutan korupsi?” aku mendelik.
“Yaach… kalau tidak kebagian korupsi, apa salahnya ikut-ikutan kolusi dan nepotisme? Ha..ha..haa…!”
Aku tambah mendelik. Ayah tertawa terkekeh-kekeh. Lalu, buuuuussh…. Asap rokok itu kembali membumbung ke udara membentuk bulatan-bulatan berlubang di atas kepalaku. Kutatap asap rook yang dihembuskan ayah dengan perasaan jengkel. Akhirnya dengan kesal kutinggalkan ruang kerja ayah.
Sejak itulah aku tidak percaya lagi pada nasehat ayah. Aku benci kepadanya. Ayahku ternyata seorang hipokrit. Ucapannya tidak sesuai dengan tindakannya. Dia memberi nasehat jangan merokok, akan tetapi dia sendiri perokok kelas berat. Karenanya, di sekolah, bersama teman-teman, aku tetap merokok. Aku berani merokok hanya pada saat-saat jam istrahat, itu pun secara sembunyi-sembunyi.
Namun suatu hari, aku dibuat gusar ketika melihat adikku yang baru duduk d SMP ikut-ikutan merokok. Aku dibuat terkejut saat menemukan sebungkus rokok di saku celananya. Sebagai kakak yang baik, aku berusaha menasehatinya agar jangan merokok. Tapi dia bukannya berhenti merokok, malah terang-terangan memperlihatkan aktifitas merokok itu di depan hidungku!
“Kakak melarangku merokok, tapi kakak sendiri kulihat juga merokok,” kilahnya enteng.
“Aku melarangmu merokok karena usiamu masih muda, anak muda,” demikian aku meniru ucapan ayah. “Kau baru SMP, sedangkan aku sudah SMA. Telah banyak yang kuperbuat dalam kehidupan ini, sedangkan kamu belum apa-apa. Ingat satu batang rokok dapat memperpendek umur 12 menit. Nah, kalau sehari kamu menghabiskan 10 batang rokok, berarti dalam sehari umurmu akan berkurang 2 jam. Kalau dihitung sebulan, berarti berkurang 60 jam. Berapa kalau setahun? Berapa pula kalau dalam sehari seseorang menghabiskan sampai dua atau tiga bungkus rokok? Apakah kamu mau mati muda seperti penyair…. (wah, aku lupa nama penyair yang disebutkan ayah itu) yang kerajingan merokok dalam usia 27 tahun rela dijemut maut dengan paru-paru gosong karena kebanyakan merokok?”
“Tapi ada orang yang hobi merokok, umurnya tetap panjang!” kilah adikku itu lagi. “Contohnya ayah, sampai sekarang masih hidup.”
“Iyyaa… tapi kan…,” mataku mendelik. Aku gelagapan mendengar argumen adikku itu. Aku bingung bagaimana harus menjawab, sebab apa yang dikatakannya itu adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Meskipun ayah hobi merokok dan umurnya telah di atas 60, ia masih hidup dan sehat-sehat saja. Ayah jarang sakit, kecuali sesekali batuk. Jadi, mana yang benar?
Tapi aku tak menggubris alasan yang dikemukakan adikku itu. Segera kurampas rokok yang ada di saku celananya sambil memberi ancaman.
Esok harinya, di kamar toilet, saat jam istrahat sekolah, rokok itu itu kubagikan kepada teman-teman. Lalu buuuuuussh… rokok itu kami hisap ramai-ramai dengan santainya.
(bersambung)

